Rabu, 21 Desember 2011

www.ihsan.co.nr KISAH SEJATI SEORANG IBU


Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya. "Bisa saya melihat bayi saya?" pinta ibu yang baru melahirkan itu penuh rona kebahagiaan di wajahnya. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, si ibu terlihat menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu. Bayi yang digendongnya ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.

Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."
Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.
Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"
Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.
Para netter yang luar biasa,
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengancinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.

Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.

Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.

JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA..., BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI.
JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA..., INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.



andriewongso Selengkapnya...

Minggu, 11 Desember 2011

www.ihsan.co.nr ZIARAH KE MAKAN PELACUR


Malam itu, Jack dengan jamaah pelacur kelas tinggi sedang berbincang di hotel bintang lima. Di bulan suci, apa yang mereka inginkan? Ya,mereka juga pasti ingin hari raya, pulang kampung dengan membawa oleh-oleh. Di antara mereka banyak yang libur melacur, hanya minta kiriman lewat ATM para pelanggannya. Ada pula yang masih ngebut mencari “tumpangan” layaknya angkot. Ada pula yang sudah berjanji, selepas lebaran, dunia kelam akan ditutup selamanya dalam hidupnya. Macam-macamlah.

Jack bercerita banyak tentang sejarah pelacuran di dunia, sampai profil-profil pelacur hingga seorang pelacur yang menjadi permaisuri raja, dan sempat menyelamatkan negerinya. Tak kurang pula bagaimana Jack mengisahkan tobatnya para pelacur dan sejumlah pelacur yang memondokkan anaknya di pesantren, dari hasil pelacuran.

“Malam ini kita akan lanjutkan ziarah bersama ke sebuah makam seorang perempuan mulia di mata Allah tapi hina di mata manusia…”

“Apakah dia seorang penjahat? Koruptor? Kanibal? Atau…? Seperti kita-kita ini, Mas? tanya salah satu hostes di hotel itu.

“Ya, Anda tebak sendiri. Kita kesana, kita tahlil, dan berdoa bersama?”

Para pelacur itu sepertinya sudah mengerti siapa yang akan di ziarahi itu. Wajah-wajah mereka mengekspresikan pancaran yang beragam. Ada yang kelihatan pucat pasi, ada pula yang gembira, ada pula yang menunduk, ada pula yang langsung menitikkan air mata.

“Bagaimana kisahnya Mas Jack, kok sampai dia begitu mulia di hadapan Allah? Apakah kita-kita ini yang sangat kotor juga bisa?”

Mata Jack menerawang jauh. Lalu ia kisahkan tentang kehidupan pelacur itu. Ia adalah seorang hostes yang sangat cantik dan sangat laris. Semua orang di jakarta yang hobi berselingkuh dengan dunia perempuan tahu namanya. Begitu juga orang-orang di kampungnya tahu profesinya. Makanya, ketika tiba-tiba meninggal dunia, hampir tak ada yang mau mnguburnya. Sanak saudaranya juga tidak jelas. Akhirnya pelacur ini dikubur saja asal-asalan, di kuburan dekat sungai, yang tempatnya jauh dari kuburan umum. Masyarakat merasa jijik, dan sekaligus menjadikan momentum, agar dikenang, bahwa seorang pelacur kalau mati tidak akan dikubur di makam umum. Mungkin masyarakat mau menghukum pelacur ini.

Sepuluh tahun kemudian, tiba-tiba ada proyek pelebaran sungai. Tentu kuburan pelacur ini akan digaruk begitu saja. Benar, ketika kuburan pelacur itu di buldoser, tiba-tiba buldosernya macet, dan berulang kali demikian. Akhirnya seorang kyai di kampung itu datang bersama masyarakat untuk mengeduk kuburan itu. Apa yang terjadi? Mereka semua terkejut setangah mati ketika melihat mayat pelacur sepuluh tahun yang lalu masih utuh, kafannya masih bersih, kulitnya masih mulus. Mereka terhenyak, dan hampir semua yang melihat disana menangis, memohon ampun kepada Allah atas dosa dan penghinaan yang mereka lakukan selama itu. Akhirnya dikuburkan di makam umum, dihormati layaknya orang yang lain.

Jack terdiam sejenak hampir tersedak suaranya. Sementara para pelacur lainnya itu, sudah saling berpelukan menahan tangis atas kisah tragis itu.

“Apa yang dilakukannya selama jadi pelacur Mas?”

“Saya tidak tahu. Mungkin hatinya tidak pernah melacur, jiwanya untuk Allah. Dan setiap dia melacur dia hanya ingat Allah, bahkan menjerit-jerit. Saya dengar dari dunia waktu yang saya tembus, melihat dia menjelang meninggalnya menangis sampai kering air matanya, dan menjerit sampai pingsan atas pertobatannya, sampai wafatnya… Allah mengampuni segala dosanya yang berlalu. Saya merasa mendengarkan munajatnya begini: Tuhan, Engkau tahu aku hamba yang Engkau Ciptakan, dan Engkau pun tahu aku seperti ini tidak lepas dari Takdir-Mu. Kini aku hanya ingin kembali kepada-Mu, setelah seluruh isi makhluk- Mu tidak ada yang menjadi harapanku.Kalau seluruh makhluk-Mu saja mencaciku, menghinaku, menghempaskanku, lalu Engkau pun juga hendak membuangku, lalu siapa lagi yang bakal menerima hamba yang hina ini Tuhaaan… Padahal Engkaulah satu-satunya harapanku… Karena itu terimalah aku di Pangkuan-Mu ya Tuhaaann…”

Hotel berbintang itu seakan-akan mau roboh mendengar kisah Jack, karena setelah kisah itu diuraikan, berurai pula air mata dan jeritan jama’ah pelacur itu…



M. Luqman Hakim (Jack&Sufi) Selengkapnya...

Selasa, 06 Desember 2011

www.ihsan.co.nr PELACUR YANG BERTASBIH


Suatu hari ada festifal MTQ khusus untuk para pelacur di kota buaya, Surabaya, yang ditempatkan di Bangunsari, komplek pelacurn kelas populis terbesar di kota itu. Tiba-tiba seorang pelacur dengan pakaian ketat, eksotis, dan menantang, datang dengan membawa tasbih di arena itu. Tasbihnya terus berputar, sesekali mulutnya komat-kamit, mendesahkan dzikir. Sebuah pemandangan yang ekstrim.

Acara itu cukup mengundang perhatian publik, sekaligus mengharukan dan menyayat hati. Betapa tidak, acara itu dimulai dengan pembacaan shalawat Badar, bak pasukan yang hendak menuju medan pertempuran. Mereka berkerudung, sebagian berjilbab, dan sebagian berpakaian layaknya pelacur pula, seronok.


Ketika Jack diundang untuk mengamati prosesi itu, Jack datang pada pelacur yang bertasbih. Apa gereangan yang menimpa nasib hamba Allah yang eksotis ini? “Jangan dikira Mas, soal hati dan jiwa, saya tidak mau kalah dengan seorang kyai.” Sebuah ungkapan jujur, tulus, dan cukup kontrofersial, tetapi benar-benar menusuk jantung Jack paling dalam.

Jack terharu mendengar kalimat itu, bahkan air mata jack mulai mengembang tidak terasa. Jack hanya berfikir sederhana, siapa yang tahu drama terakhir dari kehidupan seseorang? Siapa yang tahu hari ini dia menjadi penajaja nafsu liar, di akhir hayatnya justru menjadi kekasih Allah? Siapa tahu dia hanya melacurkan tubuhnya, sementara hati dan jiwanya hanya untuk Allah? Siapa tahu dia ini bukan pelacur, tetapi seorang gadis yang ditugaskan oleh Allah untuk menyamar sebagai pelacur? Ataukah dia memang pelacur beneran, dan memiliki tingkat spritual yang eksotis, sampai tahap paling ekstrim : dunia pelacur dan dunia spiritual dalam satu tubuh? Wallahu A’lam…

Belum selesai Jack mengakhiri ketercenganan, Jack dikejutkan lagi oleh jawaban yang cukup meruntuhkan seluruh dada Jack, ketika Jack bertanya tentang keluarga dia. “Saya seorang janda Mas, dengan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki saya sedang menghafal Al-Qur’an di sebuah pesantren, sedangkan anak perempuan saya di madrasah di kampung, ikut neneknya. Saya melacur ini untuk membiayai hidup mereka berdua, dan setiap hari saya berdao, agar anak saya menjadi ulama yang saleh, sementara yang perempuan menjadi perempuan yang salehah yang berguna.”

Perempuan itu menitikkan air matanya. Air mata itu, rasanya penuh dengan ampunan Allah. Jack melihat hatinya menangis, berluka-luka. Luka itu sepertinya jadi pledoi di akhirat nanti. Apakah Allah tega menyiksa hambaNya yang terluka seperti dirinya , sementara ia berjuang tanpa putus asa,agar dua anaknya menjadi ahli surga…


M. Lukman Hakiem (Jack & Sufi) Selengkapnya...

SELAMAT DATANG