Senin, 17 Oktober 2011

www.ihsan.co.nr DI BALIK SEBUAH PENGHINAAN


Beberapa hari setelah Somad berkunjung ke tempat Kang Soleh, dan diberi beberapa hikmah tentang kesandung hinaan, terlihat Somad berkunjung lagi ke tempat Kang Soleh.

Setelah berbasa - basi sebentar, Kang Solehpun bertanya kepada Somad.

" Kok masih murung Mad ?" tanya Kang Soleh.

" Saya masih belum bisa merasakan obrolan kang Soleh tentang kesandung hinaan, beberapa hari yang lalu. Otak saya memahami, saat bersama kang Soleh disinipun seolah bisa menikmati perjalanan Kangjeng Nabi, ketika dilempari kerikil sampai berdarah kakinya. Namun, saat saya pulang ke rumah perasaan saya kecewa, dan sakit hati masih selalu menggelayut di dada. Tetap saja tidak mau menerima sebuah penghinaan. Bahkan rasa ini... semakin menjadi - jadi, karena merasa didzolimi....".

"Wah...wah....kok, agak parah gitu..." sela Kang Soleh.

Belum selesai pembicaraan Kang Soleh dan Somad, tiba - tiba Badrun ikut masuk ke tempat Kang Soleh. Ia terlihat berjalan sambil memegang pipinya.

" Kamu kenapa, kok pegang - pegang pipi ?" tang Kang Soleh.

" Habis cabut gigi kang, masih terasa sakit." jawab Badrun singkat.

" Lo kok, dicabut giginya ? " tanya Kang Soleh.

" Ya, karena sakit gigi lah kang..." jawab Badrun.

" Waktu dicabut sakit juga ?" tanya lagi Kang Soleh.

" Kok tanyanya aneh gini kang ?" jawab Badrun agak cemberut.

" Ya, nanya saja.... memang ga boleh ?" senyum Kang Soleh.

" Ya... jelas sakit kang, sakitnyapun lebih sakit dibanding waktu sakit gigi, tapi kalau sudah dicabut, nanti kan sakit giginya jadi hilang." jawab Badrun.

Suasana kembali sepi, Somadpun ikut terdiam mendengar obrolan Badrun dengan kang Soleh.

Setelah beberapa lama terdiam, Kang Solehpun berkata,

” Belajarlah dari sakit giginya Badrun, Mad ? celoteh Kang Soleh kepada Somad.

” Maksudnya gimana kang ?” tanya Somad.

” Badrun, rela merasakan sakit gigi yang berlebih ketika dicabut giginya oleh seorang dokter, karena Badrun mempunyai pengetahuan dan keyakinan, bahwa setelah dicabut giginya, rasa sakit gigi akan hilang.” jawab Kang Soleh.

” Masih belum paham kang ....” sergah Somad.

Sejenak kemudian, kang Soleh berkata :

” Sebuah penghinaan dari orang lain atau bahkan didzolimi orang lain, sesungguhnya merupakan sarana atau obat untuk membersihkan kotoran – kotoran dari dalam batinnya sendiri. Sehingga bila kotoran – kotoran telah tercabut, dan berangsur – angsur menjadi bersih... maka anugerah yang lain akan mudah diterima.”

” Barangkali kamu tidak ingat, ketika ngaji ke abah, ada kalimat indah yang diberikan, ”jika orang didzolimi orang lain tapi hatinya sedikitpun tidak merasa sakit. Atau hatinya merasa sakit tapi malah bersyukur karena yakin bahwa kesakitan tersebut sesungguhnya merupakan obat yang akan menyembuhkan penyakit yang ada dalam batinnya sendiri, maka itulah pertanda bahwa orang tersebut adalah orang yang mengenal hakikat hidup.”

”Agak sedikit paham kang .....” celoteh Somad agak lirih.

” Yakinlah, bahwa penghinaan yang menimpamu itu merupakan obat yang menyembuhkan penyakit hati yang ada dalam batinmu, seperti Badrun yang sanggup menahan rasa sakit ketika dicabut giginya, karena ia yakin dicabut giginya merupakan sarana untuk melepas sakit gigi yang berkelanjutan.

Ketika sakit gigi, sudah tidak ada, maka Badrunpun siap memakan makanan yang ia sukai, tanpa takut merasa sakit gigi lagi. Itulah anugerah, setelah ia mencabut giginya.”

Wallahu a’lam.


Kang Tris
Selengkapnya...

www.ihsan.co.nr MENUNGGU PANGGILAN


“Kasihan banget kang, kalau lihat saudara – saudara kita, kemarin yang rela antri untuk mendapatkan sekilo daging kurban.” kata Somad.

“Kasihan gimana ?” balas Kang Soleh.

”Ya, kasihan mereka rela antri berjam – jam, untuk mendapatkan sekilo daging. Belum lagi harus berdesak – desakan.” jelas Somad.

”Untuk memenuhi sebuah panggilan” sela Kang Soleh.
”Iya kang, panggilan untuk mendapatkan sekilo daging. he..he...” jawab Somad sambil terkekeh – kekeh..

” Sebenarnya yang kasihan bukan hanya mereka kok !” balas Kang Soleh.

Belum selesai mereka bercengkrama, tiba – tiba muncul di depan pintu Edi, seorang kontraktor yang juga sering ikut nongkrong di tempat Kang Soleh.

”Bos yang satu ini, nih...juga kasihan nunggu panggilan...” ledek Kang Soleh kepada Edi.

”Maksud panggilan gimana kang ? ” tanya Edi.

”Ya ... nunggu panggilan dapat proyek, dapat tender, dapat pekerjaan.” jawab Kang Soleh.

” Ya nunggunya kasihan kang..... tapi kalau dapat proyek kasihannya terbayarkan.” jawab Edi kalem.

” Namun, sebenarnya kita semua kasihan kok ! ” celetuk Kang Soleh.

” Jelasnya gimana to ? ” tanya Somad yang dari tadi terlihat antusias.

” Tidak sedikit dari saudara – saudara kita rela antri untuk sekedar mendapat penggilan demi sekilo daging kurban. Edi inipun, rela menunggu dan menjalani berbagai proses untuk menunggu panggilan untuk mendapatkan sebuah proyek. Setelah proyek didapat, untuk mendapatkan keuntungan harus melalui proses yang tidak sederhana dan berliku.”

Namun ada sebuah panggilan yang begitu pasti keuntungannya, bahkan keuntungan itupun sudah dikasih persekot terlebih dulu, namun kita sering menyepelekan panggilan itu....”

Panggilan dari siapa ......? Panggilan dari Gusti Alloh.

Betapa banyak dari kita begitu terburu – buru memenuhi panggilan dari bosnya, dari atasannya, namun begitu santai memenuhi panggilan adzan.”

Mendengar uraian kalimat dari Kang Soleh, Edi dan Somad bertatapan saling melongo.


Kang Tris Selengkapnya...

Jumat, 17 Desember 2010

www.ihsan.co.nr MENJUAL "KEPERAWANAN"


Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:

'' Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang? "

'' Tidak! '' Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

'' Lantas untuk apa anda duduk di sini?"

'' Apakah tidak boleh? '' Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..

'' Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.''

'' Maksud, bapak? "

'' Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ''

'' Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual '' Kata wanita itu dengan suara lambat.

'' Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ''

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.

'' Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ''

'' Saya ingin menjual diri saya, '' Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

'' Mari ikut saya, '' Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.

Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

'' Apakah anda serius? ''

'' Saya serius '' Jawab wanita itu tegas.

'' Berapa tarif yang anda minta? ''

'' Setinggi-tingginya. ."

'' Mengapa?" Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.

'' Saya masih perawan ''

'' Perawan? '' Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya

'' Bagaimana saya tahu anda masih perawan?''

'' Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan?''

'' Kalau tidak terbukti? "

'' Tidak usah bayar ...''

'' Baiklah ...'' Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.

'' Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ''

'' Cobalah. ''

'' Berapa tarif yang diminta? ''

'' Setinggi-tingginya. ''

'' Berapa? ''

'' Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ''

'' Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ''

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.

'' Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?''

'' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''

'' Ini termasuk yang tertinggi, '' Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.

'' Saya ingin yang lebih tinggi...''

'' Baiklah. Tunggu disini ...'' Petugas satpam itu berlalu.

Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

'' Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?''

'' Tidak adakah yang lebih tinggi?''

'' Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh... ''

'' Saya ingin tawaran tertinggi ... '' Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.

'' Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. '' Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

'' Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas satpam itu dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu ...

'' Berapa? '' Tanya pria itu kepada Wanita itu.

'' Setinggi-tingginya '' Jawab wanita itu dengan tegas.

'' Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? '' Kata pria itu kepada sang petugas satpam.

'' Rp.. 6 juta, tuan ''

'' Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ''

Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.

'' Bagaimana? '' tanya pria itu.

''Saya ingin lebih tinggi lagi ...'' Kata wanita itu.

Petugas satpam itu tersenyum kecut.

'' Bawa pergi wanita ini. '' Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.

'' Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ''

'' Tentu! ''

'' Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu ... ''

'' Saya minta yang lebih tinggi lagi ...''

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.

Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.

'' Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ''

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

'' Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah
itu tidak cukup? " Terdengar suara pria itu berbicara.

Wajah pria itu nampak masam seketika

'' Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ''

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.

Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.

Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: '' Pak, apakah anda butuh wanita ... ??? ''

Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.

'' Ada wanita yang duduk disana, '' Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.

Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.

"Dia masih perawan..''

Pria itu mendekati petugas satpam itu.

Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. '' Benarkah itu? ''

'' Benar, pak. ''

'' Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu ... ''

'' Dengan senang hati. Tapi, pak ...Wanita itu minta harga setinggi tingginya.''

'' Saya tidak peduli ... '' Pria itu menjawab dengan tegas.

Pria itu menyalami hangat wanita itu.

'' Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ....'' Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.

'' Mari kita bicara di kamar saja.'' Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar ...

'' Beritahu berapa harga yang kamu minta? ''

'' Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ''

'' Maksud kamu? ''

'' Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih .... ''

'' Hanya itu ...''

'' Ya ...! ''

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanita ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

'' Siapa nama kamu? ''

'' Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar ... '' Kata wanita itu

'' Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ''

''Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ''

'' Ada ! " Kata pria itu seketika.

'' Sebutkan! ''

'' Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah ... '' Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

'' Saya tidak mengerti ...''

'' Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar ...''

'' Dan, apakah bapak ikhlas...? ''

'' Apakah uang itu kurang? ''

'' Lebih dari cukup, pak ... ''

'' Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ''

'' Silahkan ...''

'' Mengapa kamu begitu beraninya ... ''

'' Siapa bilang saya berani. Saya takut pak ... Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh`... Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan ... ''

'' Keyakinan apa? ''

'' Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita ... '' Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:

'' Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini ... ''

'' Kesadaran... ''

...

Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
'' Kamu sudah pulang, nak ''

'' Ya, bu ... ''

'' Kemana saja kamu, nak ... ???''

'' Menjual sesuatu, bu ... ''

'' Apa yang kamu jual?'' Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum ...

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan....

'' Kini saatnya ibu untuk berobat ... ''

Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: '' Tuhan telah membeli yang saya jual... ''.

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi:
''Antar kami ke rumah sakit"


Selengkapnya...

Kamis, 30 September 2010

www.ihsan.co.nr "SHOLAT adalah sesuatu yang TIDAK PENTING !!??"


"Sholat adalah sesuatu yang tidak PENTING", apakah kita setuju dengan pernyataan tersebut??!! Tapi itulah fenomena yang terjadi sekarang ini....Gak percaya?? Mari kita sama-sama tanyakan kepada diri kita masing-masing. Siapa yang sholatnya masih bolong-bolong??? Siapa yang masih suka menunda-nunda sholat??? atau bahkan Siapa yang gak pernah Sholat??? Hal ini (mungkin) terjadi karena memang kita menganggap "Sholat adalah sesuatu yang tidak PENTING".

"Sholat adalah sesuatu yang tidak PENTING", kecuali bagi orang-orang yang beriman dan BERSYUKUR.
Di atas saya fokus pada kata BERSYUKUR, kenapa demikian??? Karena hanya dengan Sholatlah media kita untuk berdialog dan bersyukur kepada ALLAH Taala.
Kalo kita mau jujur, kita renungkan saja dengan analogi sederhana...
"Dulu waktu kecil, kita dibelikan mainan, dibelikan baju baru oleh ayah/ibu kita, Lantas apa yang kita lakukan?? Kita pasti akan memeluk erat mereka dengan perasaan haru dan riang, dan tidak lupa kita mengucapkan terima kasih ayah/ibu..aku sayang ayah/ibu..".
"Begitu juga dulu waktu sekolah SD, pada saat penerimaan raport kita dapat ranking, ketika kita naik kelas, apa yang kita lakukan?? Kita akan meminta orang tua kita memberikan hadian kepada guru kita dan mengucapak 'terima kasih ya Bpk/Ibu guru atas ilmu yang sudah diberikan'".
Satu pertanyaan besar, "Apa yang telah kita lakukan sebagai rasa terima kasih kita dalam mensyukuri semua Nikmat dan Karunia yang telah ALLAH berikan kepada kita?!!

Mungkin sebagian dari kita sering berpikir, "Aku gak pernah dapat apa-apa dari ALLAH, Dari dulu samapai sekarang aku masih begini-begini saja. Apa yang harus disyukuri? Ngapain aku harus Sholat? Tapi apakah kita yakin dengan pemikiran seperti itu?? Padahal dengan tidak terjadi sesuatu apapun pada diri kita (SEHAT), itu adalah nikmat dan karunia besar yang ALLAH berikan kepada kita...
Mari kita renungkan sejenak:
>Apa yang terjadi jika Nikmat MELIHAT kita dicabut oleh ALLAH?? Kita tidak bisa melihat lagi, tidak bisa memandang dan mengagum kindahan ciptaan-NYA.
>Apa yang terjadi jika Nikmat MENDENGAR kita dicabut oleh ALLAH?? Kita tidak bisa mendengar lagi lantunan Ayat-ayat AlQuran yang begitu Indah, kita tidak dapat mendengarkan seruan Adzan.
>Apa yang terjadi jika Nikmat BERBICARA kita dicabut oleh ALLAH?? Kita tidak bisa lagi melantunkan lagi Ayat-ayatNYA yang Suci dan menetramkan hati.
>Dan sadarkah kita, setiap tarikan dan hembusan nafas kita adalah Karunia-NYA? Dan apa yang terjadi jika nikmat tersebut dicabut oleh ALLAH?
MASIHKAH KITA TIDAK BERSYUKUR???

Pasti semua sepakat, Ketika kita sakit, pasti kita ingin cepat segera sembuh... Ketika kita menginginkan sesuatu, pasti ingin segera tercapai... Lantas apa yang kita lakukan untuk itu?
Dengan analogi sederhana ini mari kita renungkan:
"Ada seorang penjual makanan, misalnya saja Penjual Nasi Uduk langganan kita. Dia buka setiap jam 5 pagi. Kemudian kita datang dan ingin membeli Nasi Uduk, tetapi kita datang jam 6 pagi. Ternyata disana sudah banyak orang yang mengantri dan saling berebut untuk dilayani terlebih dahulu, sementara kita boleh dikatakan berada di urutan paling akhir. Apa yang bakalan terjadi? Bisa jadi kita msih lama dilayani, bisa jadi juga kita hanya mendapatkan sisa-sia, atau bahakan kita tidak akan mendapatkan apa-apa".
Bagaimana jika hal itu terjadi ketika kita berada di hadapan-NYA? Kita ingin kesehatan, kita ingin kemuliaan, kita ingin lipahan rezeki-NYA, kita ingin segala sesuatu yang kita inginkan segera terwujud, "tetapi kita selalu terlambat untuk menghadap-NYA", kita selalu berada diurutan terakhir untuk memohon kepada-NYA karean kita selalu 'menunda-nunda Sholat kita".

Tulisan ini saya buat setelah beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan pada sebuah tread yang isinya sangat menyentuh dan menggugah hati kita akan pentingnya SHOLAT. Saya berharap mudah-mudahan tulisan ini dapat bermanfaat, dan dapat mengingatkan dan meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya SHOLAT.

Apapun bentuk Nikmat dan Karunia-NYA, marilah kita Syukuri dengan menuanikan Sholat, bersedekah, amar ma'ruf nahi munkar, berbuat baik kepada sesama, dan senantiasa menjalankan semua perintah-NYA dan menjaui segala larangan-NYA. Mari kita belajar bersama, mulai dari sekarang, tekadkan untuk menjadi insan yg lebih baik dan bertakwa...Amin Ya Robbal Alamin.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nimat-Ku sesungguhnya azab-Ku amat pedih." Ibrahim (14):7

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya…" Thaha (20):132
Selengkapnya...

Kamis, 24 Juni 2010

www.ihsan.co.nr DUA GELAS TEH


Suatu petang selepas shalat Isya, seseorang datang ke tempat kang Soleh. Pakaiannya rapi, di saku bajunyapun terselip sebuah pulpen parker. Sorot matanya tajam, walau dibalut kaca mata minus. Kedatangannya ke tempat kang Soleh hanya ingin berkonsultasi tentang merasakan manisnya ibadah.

Setelah berbasa – basi, orang itupun mulai bertanya kepada kang Soleh.
”Maaf nih kang, saya sudah bertanya ke beberapa orang tentang suatu hal, yang menurut saya, sulit untuk difahami oleh saya. Penjelasan yang diberikan oleh orang – orang yang saya ajak bicara, hanya bersifat verbal dan sulit difahami oleh akal sehat saya” celoteh orang itu.

”Lo... kalau sampeyan, sudah bertanya ke beberapa orang mengapa masih tanya kepada saya ?” jawab kang Soleh.

”Nah... justru saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan, makanya saya ingin bertanya kepada kang Soleh.”

”Jadi... apa nih, masalah sebenarnya ?”, tanya kang Soleh sambil tersenyum.

”Merasakan manisnya ibadah kang ..... ” celetuk orang itu.

”Lo... itu sudah jelas, tidak sedikit dalil yang menerangkan tentang manisnya ibadah.” jawab kang Soleh.

”Justru itu kang, saya dibuat pusing....... sekarang logikanya begini kang, bagaimana mungkin ibadah kok terasa manis ? kalau maksiat dibilang manis, itu masuk logika kang.” sergah orang itu.


Diam – diam kang Soleh mulai mengetahui arah pembicaraan orang yang ada di depannya. Dari bibirnyapun terdengar lirih lantunan istighfar. Sementara kang Soleh masih terdiam, orang itupun berkata lagi.
”Sekarang begini kang, seumpama saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai kepala bagian purchasing, otomatis semua vendor – vendor yang ingin memasukkan barang ke tempat perusahaan saya bekerja, keputusannya ada di tangan saya. Nah, di posisi yang seperti ini kang, bukankah korupsi merupakan hal yang manis ? dan saya pun yakin banyak orang yang mengidam – idamkann posisi seperti yang saya tempati. Kenapa ? karena posisi basah kang, kenapa basah ? ya ... karena banyak sumber uang yang bisa dikorupsi.”

Mendengar ocehan orang itu, kang Solehpun masih terdiam. Melihat diamnya kang Soleh orang itupun kembali melanjutkan bicaranya.

”Terus sekarang kan lagi ramai – ramainya piala dunia kang, sudah menjadi tren khususnya di kota – kota, ada acara nonton bareng piala dunia. Nah... biar lebih jreng ada juga yang pakai taruhan, biar lebih semangat... kalau jagoannya menang, selain senang, masih ada bonusnya kang... yakni dapat uang taruhan, yang begini ... nih... kan manis namanya.”

”Ada juga yang tidak kalah hebohnya kang sekarang, ”video porno mirip artis”, yang ini nih kang... dari bos sampai cleaning service berebut ikutan nonton, apalagi begitu maraknya pemberitaan sehingga memancing rasa keingintahuan khalayak, termasuk anak – anak SD kang ? masak mau dilarang melihat video itu ?”


Sesaat kemudian, orang itu terlihat mengakhiri pembicaraannya. Kang Solehpun masih terdiam termangu – mangu mendengar penuturan orang itu. Dalam lubuh hati yang terdalam kang Soleh berkata, ”orang seperti ini belum tentu terbuka hatinya, bila dijawab langsung dengan menukil ayat – ayat Al Qur’an ataupun Al Hadits, bagi dia hanya jawaban yang masuk logika yang bisa ia terima.”
”Sudah, hanya itu ceritanya ?” mendadak kang Soleh bertanya.

”Ya itu kang, realita yang ada sekarang... yang membuat saya tidak bisa mengerti, dan memahami, ”merasakan manisnya ibadah.” jawab orang itu.


Setelah terdiam sebentar, sesaat kemudian kang Soleh berkata,
” Mau minum kopi atau teh manis, ni ?”

” Teh manis, saja kang..... kalau tidak merepotkan”, jawab orang itu.


Sesaat kemudian, kang Solehpun meminta isterinya membuatkan dua gelas teh manis untuk dirinya dan orang itu. Setelah sama – sama meminum, kang Soleh berkata.
” Teh ini.... rasanya manis ya ? ”

” Ya ... iya lah kang, wong pakai gula... ya jelas manis rasanya.” jawab orang itu.

” Tapi, ada juga lo.... orang yang tidak bisa merasakan manisnya gula ?” balas kang Soleh.

”Ga mungkin kang.... sudah dari sononya gula rasanya manis, mau bodoh, mau pinter, mau pejabat, mau pengemis.... kalau minum pakai campuran gula...jelas rasanya manis.” jawab orang itu.

”Orang yang sedang sakit............” jawab kang Soleh.

Orang itupun tersenyum .... mendengar jawaban kang Soleh. Sesaat kemudian kang Soleh melanjutkan kata – katanya.

”Orang yang sedang sakit, tidak bisa merasakan manisnya gula. Terlepas yang sakit oranga bodoh, orang pinter, pejabat, pengemis, di saat sedang sakit, gula yang sejatinya rasanya manis terasa pahit di lidah orang sakit itu.”

”Rasa pahit yang ia rasakan, bukan karena gula tidak manis rasanya, namun karena ia sedang dalam keadaan sakit...., ia tidak bisa merasakan manisnya gula.... melainkan pahit, walaupun rasa gula yang sesungguhnya rasanya manis.”

”Orang yang sakit, bisa kembali merasakan manisnya rasa gula, ketika ia sudah menjadi sehat. Ia bisa menjadi sehat dikala penyakit – penyakit dalam tubuhnya sudah diobati dengan obat yang sesuai untuk penyakitnya, serta ditangani oleh dokter yang memang ahli mengobati penyakit tersebut.”

”Di saat sakitnya telah sembuh, dan sehatnya telah kembali, maka orang tersebut ketika meminum teh manis... bukan lagi pahit yang ia rasakan seperti rasa saat sakit, melainkan manis yang ia rasakan sebagaimana rasa yang dialami oleh orang – orang sehat lainnya.”


Mendengar penuturan dari kang Soleh, wajah orang itu sedikit kelihatan pucat....diam – diam, ia mulai sedikit memahami pembicaraan kang Soleh. Setelah menghela nafas, untaian kalimat meluncur dari kang Soleh.
”Orang yang hatinya mengidap penyakit tidak akan bisa merasakan manisnya ibadah, walaupun dijelaskan dengan penjelasan panjang lebarpun tidak akan bisa menerimanya, sebagaimana orang yang sedang sakit tidak bisa merasakan manisnya gula, walaupun dijelaskan secara ilmiah tentang zat pemanis yang terkandung di dalam gula.”

”Orang bisa merasakan manisnya ibadah, dikala penyakit – penyakit di hatinya telah terobati, serta ditangani oleh guru pembimbing yang sempurna sebagaimana ditangani oleh dokter – dokter ahli”

”Begitu mutlaknya guru pembimbing, karena hanya dengan bimbingannyalah kita mengetahui jenis – jenis penyakit yang ada dalam hati kita, sebagaimana seorang dokter lebih mengetahui jenis penyakit yang diderita oleh tubuh kita, dibanding diri kita sendiri yang penuh kebodohan.”

”Orang – orang yang sakit hatinya, walaupun sedang beribadah di hamparan permadani Rabbani dan berhadapan secara langsung secara hakiki dengan Allah SWT, tidak bisa merasakan manisnya sebuah ibadah, padahal Allah sudah sangat dekat dan bahkan lebih dekat dari urat lehernya sendiri.”


Wallahu’alam.

(KangTris)
Selengkapnya...

Jumat, 16 April 2010

www.ihsan.co.nr PERNIKAHAN


Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam al-Quran sebagai miitsaaqun ghaliizh, perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan semata-mata sarana mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.
Pernikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Bagi pasangan yang masing-masing mempunyai niat tulus untuk membangun mahligai kehidupan bersama dan menyadari bahwa pernikahan ialah tanggungjawab dan amanah, maka pernikahan mereka bisa menjadi sorga. Apalagi, bila keduanya saling menyintai.

Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang artinya,“Perhatikanlah baik-baik istri-istri kalian. Mereka di samping kalian ibarat titipan, amanat yang harus kalian jaga. Mereka kalian jemput melalui amanah Allah dan kalimah-Nya. Maka pergaulilah mereka dengan baik, jangan kalian lalimi, dan penuhilah hak-hak mereka.”

Ketika berbicara tentang tanggungjawab kita, Rasulullah SAW antara lain juga menyebutkan bahwa “Suami adalah penggembala dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya dan isteri adalah penggembala dalam rumah suaminya dan bertanggungjawab atas gembalaannya.”

Begitulah, laki-laki dan perempuan yang telah diikat atas nama Allah dalam sebuah pernikahan, masing-masing terhadap yang lain mempunyai hak dan kewajiban. Suami wajib memenuhi tanggungjawabnya terhadap keluarga dan anak-anaknya, di antaranya yang terpenting ialah mempergauli mereka dengan baik. Istri dituntut untuk taat kepada suaminya dan mengatur rumah tangganya.

Masing-masing dari suami-isteri memikul tanggungjawab bagi keberhasilan perkawinan mereka untuk mendapatkan ridha Tuhan mereka. Apabila masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya daripada menuntut haknya saja, Insya Allah, keharmonisan dan kebahagian hidup mereka akan lestari sampai Hari Akhir. Sebaliknya, apabila masing-masing hanya melihat haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi beban yang sering kali tak tertahankan.

Masing-masing, laki-laki dan perempuan, secara fitri mempunyai kelebihan dan kekurangannnya sendiri-sendiri. Kelebihan-kelebihan itu bukan untuk diperbanggakan atau diperirikan. Kekurangan-kekurang pun bukan untuk diperejekkan atau dibuat merendahkan. Tapi, semua itu merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi. Kedua suami-isteri bersama-sama berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak yang mulia dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian, akan terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.

(GusMus)
Selengkapnya...

Senin, 01 Maret 2010

www.ihsan.co.nr HAJIKU DI DEPAN RUMAH...


Abu Nashr pernah datang menemui Bisyr bin Harits yang telah menyiapkan perbekalan untuk melaksanakan ibadah haji. "Berapa biaya yang kamu siapkan untuk hajimu?" Tanya Nashr. "Seribu Dirham". Jawabnya. "Kamu berhaji ingin bertamasya, rindu kepada Ka'bah, ingin mencari ridlo Allah, atau mungkin ada maksud tujuan lain?" Tanya Abu Nashr lagi.
Pertanyaan sepele, tapi Bisyr tak mampu menjawab pertanyaan tentang motivasi kepergian hajinya. "Untuk mencari ridlo Allah", jawab Bisyr. "Jika kamu ingin mencari keridloan Allah, tetaplah kamu di sini, tak usah pergi ke Makkah, tapi sedekahkanlah seribu dirham biaya hajimu, maka aku yakin kamu akan menggapai ridlo Allah. Apakah kamu akan menjalankan nasehatku ini?". Kali ini Bisyr berpikir lebih lama dari semula, dan akhirnya ia menjawab, "Ya, aku akan menuruti nasehatmu".
"Kalau begitu, keluar dan lunasilah hutang sepuluh muslim. Sedang sisanya berikanlah kepda fakir miskin, anak-anak yatim, dan para janda miskin. Gembirakanlah hati mereka semua karena menggembirakan hati muslim dan menolong orang yang tertimpa kesusahan, lebih afdhal dari seratus kali haji. Keluarlah sekarang juga, atau katakan apa yang ada di hatimu!. "Wahai Abu Nashr, hatiku lebih cenderung untuk menuaikan ibadah haji". Mendengar jawaban Bisyr dengan tersenyum Abu Nashr berkata, "Sesungguhnya harta bila dikumpulkan dari perdagangan yang tak bersih dan mengandung subhat, maka Allah akan memperbanyak rasa kebutuhan orang itu. Dan sesungguhnya Allah telah bersumpah, bahwa ia takkan menerima sodaqoh kecuali dari orang-orang yang taqwa."
Anda tak perlu penasaran dengan kelanjutan kisah yang termaktub di dalam Kitab al-Yawaaqid al-Jauhariyyah, karya al-habib Idrus al-Idrus. Yang jelas serta pasti pula, nasehat tersebut jauh dari maksud merendahkan arti ibadah haji. Hanya ada perbedaan dalam menentukan wajib tidaknya ibadah haji bagi seseorang, terutama bila mengingat situasi dan kondisi yang ada.
Di tengah kecenderungan masyarakat untuk memaksakan diri menuaikan ibadah haji ada baiknya kita renungkan nasehat Abu Nashr tadi. Lebih-lebih bila mengingat calon haji dari melecehkan ibadah haji itu sendiri. Seperti berhaji untuk rekreasi, bertujuan politis, berdagang, sekalian mampir dan lain-lain. Walhasil bukan termasuk yang ikhlas dan dipanggil", mereka bagai tamu yang tak diundang.
Tamu-tamu yang tak diundang ini, jasadnya melancong ke tanah suci tetapi ruh mereka tak ikut serta. Dan andaikata Abu Nashr bertemu mereka hampir dapat dipastikan beliau akan melarang mereka pergi naik haji. Bagaimana tidak, sedang saudara mereka sendiri banyak hidup dalam kemelaratan? Belum lagi dengan nasib para janda, anak-anak yatim, kaum miskin dan mereka yang dililit hutang, mereka yang terbaring, sekarat tak mampu membeli obat dan lain-lain?.
Memang kewajiban melaksanakan ibadah haji bukan ditentukan dengan masih ada tidaknya kaum dhuafa, namun bila semata-mata untuk mencari keridloan Allah maka kepedulian terhadap mereka perlu dipertimbangkan. Lebih-lebih bagi mereka yang telah lepas dari kewajiban, yaitu mereka yang sudah pernah berhaji.
Rasulullah SAW dalam sebuah sabdanya pernah mensinyalir bahwa kelak akhir zaman akan muncul empat macam hujjaj yang berhaji dengan berbagai motivasi:
1. Para pemimpin berhaji untuk rekreasi,
2. Orang-orang kaya untuk berdagang,
3. Orang-orang miskin untuk meminta-minta, dan
4. Para qori (pembaca al-Quran) untuk mencari popolaritas.
Mereka yang berhaji dengan berbagai keniatan ini, termasuk para tamu yang tidak diundang. Mereka akan minus dalam fadhilah, hikmah dan akan kembali hanya dengan sebutan Pak Haji/Bu Hajah. Kini sudah saatnya para tamu tak diundang dan calon hajjaj untuk mengasah kepekaan mereka terhadap nasib saudara, tetangga, dan lingkungan mereka sendiri. Yang perlu diingat kepedulian terhadap mereka, termasuk salah satu barometer untuk menimbang keimanan seseorang. Bukanlah Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang, hingga ia mencintai saudara muslimnya sebagaiamana ia mencintai dirinya sendiri?"

Abdullah bin Mubarak pernah menceritakan:
Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji setelah selesai menunaikan tahap demi tahap rangkaian ibadah haji, beliau tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.
“Berapa banyak jamaah yang datang tahun ini?” Tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“600.000,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak dari mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” Beliaupun menangis.
“Semua orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Pikir Ibnu Mubarak sedih
“ Kecuali hanya seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama.
“Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Bahkan berkat dialah ibadah seluruh jamaah haji ini diterima oleh Allah.” Lanjut malaikat pertama menerangkan.
Ketika Abdullah Ibnu Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damasykus mencari orang yang bernama Ali bin Muwaffaq itu. Dia telusuri tempat tinggal Muwaffaq sampai beliau temukan. Dan ketika diketuk pintunya, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya tentang namanya.
“Assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh!” Sapa Ibnu Mubarak sambil mengetuk pintu.
“Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” Tanya Ibnu al-Mubarak kepada lelaki yang ditemuinya.
“Aku Ali bin Muwaffaq, penjual sepatu. Siapakah Anda?”
Kepada lelaki itu Ibnu al-Mubarak menerangkan jadi dirinya dan maksud kedatangannya. Setelah tahu siapa yang datang serta maksud dan tujuannya. Tiba-tiba Muwaffaq menangis dan jatuh pingsan.
Ketika sadar, Ibnu Mubarak memohon agar Muwaffaq berkenan untuk menceritakan semua yang dia alami terkait dengan hajinya. Dia mengatakan bahwa selama 40 tahun dia telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Untuk itu telah terkumpul dana sebanyak 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Maka tahun ini dia memutuskan untuk pergi ke Mekkah.
Suatu hari istrinya yang sedang hamil mencium aroma sedap makanan yang sedang dimasak tetangga sebelah rumahnhya. Kemudian si istri memohon kepadanya agar ia bisa mencicipinya sedikit. Lalu Muwaffaq pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya.
Saat Muwaffaq mengutarakan maksud kedatangannya, tetangga itupun mendadak menagis.
“Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya.
“Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Terang tetangganya sambil menangis.
Saat mendengar cerita itu hati Muwaffaq serasa terbakar. Maka tabungan yang terkumpul untuk berhaji sebanyak 350 dirham diberikan kepadanya.
“Belanjakan ini untuk anakmu,” kata Muwaffaq.
“Inilah perjalanan hajiku.” kata Muwaffaq dalam hati.
“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah Ibnu Mubarak selepas menemui Muwaffaq.
“Dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”

( Beliau bernama Abdullah bin al-Mubarak, Abu Abdurrahman al-Marwazy, Maula Bani Hanzhalah. Beliau lahir di salah satu kota yang terdapat di Khurasan yang dikenal dengan nama Marwaz pada tahun 118H /726 M dari rahim seorang ibu keturunan Khawarizmi (Persia) dan ayah yang berkebangsaan Turki. Secara fisik beliau sangat mirip dengan ayahnya. Beliau wafat pada tahun 181 H/797 M setelah beliau kembali dari berjihad, dan jasad beliau yang mulia dikuburkan di desa Hayyat Bagdad.
Abdullah bin al-Mubarak tumbuh dan besar di Marwaz yang merupakan kota kelahirannya, beliau terdidik di tengah keluarga shaleh yang senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman lagi wara’. Pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya beliau belajar pada sebuah sekolah dan menimba ilmu-ilmu dasar disana, maka pada masa itu tampaklah kecerdasan dan kecepatan beliau dalam menghafal sebagaimana persaksian salah seorang teman yang selalu bersamamnya dia berkata: “Ketika kami masih duduk ditaman kanak-kanak aku bersama Ibnu al-Mubarak melewati seseorang yang sedang berkhutbah, dimana khutbah yang disampaikan oleh orang tersebut sangat panjang, setelah khutbah selesai Ibnu al-Mubarak berkata kepadaku: ‘Aku telah menghafalkan seluruh isi khutbah tersebut’. Seseorang yang ada disekitarnya mendengarkan perkataan Ibnu al-Mubarak lalu berkata: ‘kalau memang demikian sampaikanlah khutbah yang baru saja disampaikan oleh khatib tadi!’, kemudian Ibnu al-Mubarak mengulangi isi khutbah tersebut tanpa menambah dan menguranginya”
)

( Duratun Nasihin )
Selengkapnya...

SELAMAT DATANG