Minggu, 11 Desember 2011

www.ihsan.co.nr ZIARAH KE MAKAN PELACUR


Malam itu, Jack dengan jamaah pelacur kelas tinggi sedang berbincang di hotel bintang lima. Di bulan suci, apa yang mereka inginkan? Ya,mereka juga pasti ingin hari raya, pulang kampung dengan membawa oleh-oleh. Di antara mereka banyak yang libur melacur, hanya minta kiriman lewat ATM para pelanggannya. Ada pula yang masih ngebut mencari “tumpangan” layaknya angkot. Ada pula yang sudah berjanji, selepas lebaran, dunia kelam akan ditutup selamanya dalam hidupnya. Macam-macamlah.

Jack bercerita banyak tentang sejarah pelacuran di dunia, sampai profil-profil pelacur hingga seorang pelacur yang menjadi permaisuri raja, dan sempat menyelamatkan negerinya. Tak kurang pula bagaimana Jack mengisahkan tobatnya para pelacur dan sejumlah pelacur yang memondokkan anaknya di pesantren, dari hasil pelacuran.

“Malam ini kita akan lanjutkan ziarah bersama ke sebuah makam seorang perempuan mulia di mata Allah tapi hina di mata manusia…”

“Apakah dia seorang penjahat? Koruptor? Kanibal? Atau…? Seperti kita-kita ini, Mas? tanya salah satu hostes di hotel itu.

“Ya, Anda tebak sendiri. Kita kesana, kita tahlil, dan berdoa bersama?”

Para pelacur itu sepertinya sudah mengerti siapa yang akan di ziarahi itu. Wajah-wajah mereka mengekspresikan pancaran yang beragam. Ada yang kelihatan pucat pasi, ada pula yang gembira, ada pula yang menunduk, ada pula yang langsung menitikkan air mata.

“Bagaimana kisahnya Mas Jack, kok sampai dia begitu mulia di hadapan Allah? Apakah kita-kita ini yang sangat kotor juga bisa?”

Mata Jack menerawang jauh. Lalu ia kisahkan tentang kehidupan pelacur itu. Ia adalah seorang hostes yang sangat cantik dan sangat laris. Semua orang di jakarta yang hobi berselingkuh dengan dunia perempuan tahu namanya. Begitu juga orang-orang di kampungnya tahu profesinya. Makanya, ketika tiba-tiba meninggal dunia, hampir tak ada yang mau mnguburnya. Sanak saudaranya juga tidak jelas. Akhirnya pelacur ini dikubur saja asal-asalan, di kuburan dekat sungai, yang tempatnya jauh dari kuburan umum. Masyarakat merasa jijik, dan sekaligus menjadikan momentum, agar dikenang, bahwa seorang pelacur kalau mati tidak akan dikubur di makam umum. Mungkin masyarakat mau menghukum pelacur ini.

Sepuluh tahun kemudian, tiba-tiba ada proyek pelebaran sungai. Tentu kuburan pelacur ini akan digaruk begitu saja. Benar, ketika kuburan pelacur itu di buldoser, tiba-tiba buldosernya macet, dan berulang kali demikian. Akhirnya seorang kyai di kampung itu datang bersama masyarakat untuk mengeduk kuburan itu. Apa yang terjadi? Mereka semua terkejut setangah mati ketika melihat mayat pelacur sepuluh tahun yang lalu masih utuh, kafannya masih bersih, kulitnya masih mulus. Mereka terhenyak, dan hampir semua yang melihat disana menangis, memohon ampun kepada Allah atas dosa dan penghinaan yang mereka lakukan selama itu. Akhirnya dikuburkan di makam umum, dihormati layaknya orang yang lain.

Jack terdiam sejenak hampir tersedak suaranya. Sementara para pelacur lainnya itu, sudah saling berpelukan menahan tangis atas kisah tragis itu.

“Apa yang dilakukannya selama jadi pelacur Mas?”

“Saya tidak tahu. Mungkin hatinya tidak pernah melacur, jiwanya untuk Allah. Dan setiap dia melacur dia hanya ingat Allah, bahkan menjerit-jerit. Saya dengar dari dunia waktu yang saya tembus, melihat dia menjelang meninggalnya menangis sampai kering air matanya, dan menjerit sampai pingsan atas pertobatannya, sampai wafatnya… Allah mengampuni segala dosanya yang berlalu. Saya merasa mendengarkan munajatnya begini: Tuhan, Engkau tahu aku hamba yang Engkau Ciptakan, dan Engkau pun tahu aku seperti ini tidak lepas dari Takdir-Mu. Kini aku hanya ingin kembali kepada-Mu, setelah seluruh isi makhluk- Mu tidak ada yang menjadi harapanku.Kalau seluruh makhluk-Mu saja mencaciku, menghinaku, menghempaskanku, lalu Engkau pun juga hendak membuangku, lalu siapa lagi yang bakal menerima hamba yang hina ini Tuhaaan… Padahal Engkaulah satu-satunya harapanku… Karena itu terimalah aku di Pangkuan-Mu ya Tuhaaann…”

Hotel berbintang itu seakan-akan mau roboh mendengar kisah Jack, karena setelah kisah itu diuraikan, berurai pula air mata dan jeritan jama’ah pelacur itu…



M. Luqman Hakim (Jack&Sufi) Selengkapnya...

Selasa, 06 Desember 2011

www.ihsan.co.nr PELACUR YANG BERTASBIH


Suatu hari ada festifal MTQ khusus untuk para pelacur di kota buaya, Surabaya, yang ditempatkan di Bangunsari, komplek pelacurn kelas populis terbesar di kota itu. Tiba-tiba seorang pelacur dengan pakaian ketat, eksotis, dan menantang, datang dengan membawa tasbih di arena itu. Tasbihnya terus berputar, sesekali mulutnya komat-kamit, mendesahkan dzikir. Sebuah pemandangan yang ekstrim.

Acara itu cukup mengundang perhatian publik, sekaligus mengharukan dan menyayat hati. Betapa tidak, acara itu dimulai dengan pembacaan shalawat Badar, bak pasukan yang hendak menuju medan pertempuran. Mereka berkerudung, sebagian berjilbab, dan sebagian berpakaian layaknya pelacur pula, seronok.


Ketika Jack diundang untuk mengamati prosesi itu, Jack datang pada pelacur yang bertasbih. Apa gereangan yang menimpa nasib hamba Allah yang eksotis ini? “Jangan dikira Mas, soal hati dan jiwa, saya tidak mau kalah dengan seorang kyai.” Sebuah ungkapan jujur, tulus, dan cukup kontrofersial, tetapi benar-benar menusuk jantung Jack paling dalam.

Jack terharu mendengar kalimat itu, bahkan air mata jack mulai mengembang tidak terasa. Jack hanya berfikir sederhana, siapa yang tahu drama terakhir dari kehidupan seseorang? Siapa yang tahu hari ini dia menjadi penajaja nafsu liar, di akhir hayatnya justru menjadi kekasih Allah? Siapa tahu dia hanya melacurkan tubuhnya, sementara hati dan jiwanya hanya untuk Allah? Siapa tahu dia ini bukan pelacur, tetapi seorang gadis yang ditugaskan oleh Allah untuk menyamar sebagai pelacur? Ataukah dia memang pelacur beneran, dan memiliki tingkat spritual yang eksotis, sampai tahap paling ekstrim : dunia pelacur dan dunia spiritual dalam satu tubuh? Wallahu A’lam…

Belum selesai Jack mengakhiri ketercenganan, Jack dikejutkan lagi oleh jawaban yang cukup meruntuhkan seluruh dada Jack, ketika Jack bertanya tentang keluarga dia. “Saya seorang janda Mas, dengan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki saya sedang menghafal Al-Qur’an di sebuah pesantren, sedangkan anak perempuan saya di madrasah di kampung, ikut neneknya. Saya melacur ini untuk membiayai hidup mereka berdua, dan setiap hari saya berdao, agar anak saya menjadi ulama yang saleh, sementara yang perempuan menjadi perempuan yang salehah yang berguna.”

Perempuan itu menitikkan air matanya. Air mata itu, rasanya penuh dengan ampunan Allah. Jack melihat hatinya menangis, berluka-luka. Luka itu sepertinya jadi pledoi di akhirat nanti. Apakah Allah tega menyiksa hambaNya yang terluka seperti dirinya , sementara ia berjuang tanpa putus asa,agar dua anaknya menjadi ahli surga…


M. Lukman Hakiem (Jack & Sufi) Selengkapnya...

Senin, 17 Oktober 2011

www.ihsan.co.nr Seekor Burung Beo dan SAKARATUL MAUT


Sebuah pesantren di daerah Jawa Tengah memberikan cerita hikmah untuk kita semua. Ceritanya dimulai beberapa tahun yang lalu saat pengurus pesantren tersebut tepatnya pemilik pondokan (sebutan sebuah pesantren) memelihara seekor burung beo.

Beo merupakan jenis burung yang paling cerdas menirukan... suara-suara manusia selain burung kakak tua. Bertahun-tahun Kiai mengajarkan sebuah kalimat kepada beo itu. Kalimat yang sering kita baca dalam sholat. kalimat tauhid, ”Laillahaillallah Muhammadarrasulullah” terus diajarkan kepada beo. Hingga begitu lancarnya di lafadzkan oleh burung beo.

Selama beberapa lama pondokan diramaikan kalimat tauhid Yang di ucapkan si burung beo. Memberikan suasana dzikir para santri semakin berwarna. Ada kebanggaaan sendiri melihat seekor burung bersuara kalimat tauhid.

Pada suatu hari ketika Pemilik Pondok itu terlelap tidur sangkar burung terbuka dengan waktu yang sama, seekor kucing sedang mengendap dan menunggu masa untuk menangkap burung itu, ketika terlelap si Kucing telah mengambil kesempatan untuk menerkam burung itu..

Pemilik Pondok terkejut mendengar suara ribut burung Beo yg kesakitan digigit, pemilik pondok bangun dan mengusir kucing itu, dan mencoba menyelamatkan burung itu, malangnya burung Beo itu telah lemah akibat gigitan kucing tadi. Burung itu mengerang kesakitan dipangkuan Pemilik Pondok sampai terdiam. tidak bernyawan.

Dengan rasa sedih pemilik pondok menanam Burung Beo yg telah mati, Dia sangat kehilangan burung Beo yg selalu menjadi penghibur hatinya selepas lelah mengajar,..
Semejak kematian burung Beo, Pemilik pondok selalu diam dan termenung hingga menimbulkan tandatanya pada para santrinya,...Para santri datang menanyakan kenapa Guru begitu sedih sekali setelah kematian burung Beo? Apakah Guru terlalu sayang pada burung Beo hingga menyebabkan guru bersedih? tanya salah satu santri..

Pemilik Pondok menjawab " Kesedihan terhadap kematian burung Beo tidak sampai sesedih itu, tapi Guru memikirkan betapa burung itu mampu berkata Tauhid dengan baik walau tidak memahami apa yg disebutkannya..
Coba kalian bayangkan burung itu setiap hari dimulutnya mengucapkan kalimat Tauhid " Tetapi disaat kematiannya, dia hanya mengerang kesakitan dan tidak menyebut kalimat Tauhid yg selalu diucapkannya sewaktu hidup,..

Dari peristiwa itu saya berpikir,..Apakah saya juga akan begitu disaat sakaratul maut nanti. Walaupun saya sering mengajarkan kalian ilmu Al-Qur'an, kita sering ber'ibadah, tetapi saya amat takut tidak bisa mengucap kalimat Syahadat,.."Apakah saya mampu menahan sakit sakaratul maut hingga lupa mengucap kalimat Syahadat disaat akhir hidup saya nanti"
Barulah Para Santri tau, kenapa Pemilik Pondok (GURU) sering termenung selepas kematian burung Beo nya itu...

Jika Guru yg banyak Ilmu dan Amalan juga risau akan tiba sakaratul Maut...
Coba Pikirkan Bagaimanakah kita?...
Sudahkah kita dalami Syahadat dengan ilmu yg cukup?..
Sudahkah kita tunaikan tuntunan-tuntunan Syahadah itu?..
Sudahkah kita sempunakan Syahadat dengan amal dan ketaatan dengan secukupnya?...
Sudahkan kita meninggalkan perkara-perkara yg merusak Syahadat kita?..
Ataukah kita tidak pernah mau berpikir dan tidak ambil peduli dengan Syahadah yang ada pada kita?...
Dan tidak pernah berpikir Apakah kita mampu mengucapkan kalimat Syahadat itu nanti ketika kita sedang bergelut dengan sakitnya sakaratul Maut?..

Saat-saat terak'hir kita didunia untuk menuju alam pembalasan " Beramal dan Ber'Doalah untuk saat yang PASTI itu..

Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan HUSNUL- KHaTIMAH( akhir yg baik )
dan Jangan KAU Akhiri Hidup Kami dengan SUU-UL-KHATIMAH ( akhir yg buruk )...

Amin Ya Rabal'alamin...

----
Tulisan diatas diambil dari seorang sahabat ibu SriPurna Ciptati Selengkapnya...

www.ihsan.co.nr Titipan Yang Dibanggakan


Sambil menunggu waktu maghrib saat buka puasa, Somad memang tidak terlihat seperti pemuda kampung lainnya, yang disibukkan dengan jalan – jalan ngabuburit. Ia lebih memilih nongkrong di tempat Kang Soleh untuk berdiskusi berbagai hal, termasuk masalah titipan Alloh yang dibangga – banggakan.

“Kang Soleh, gimana sih, bisa menghilangkan rasa bangga atas titipan harta dari gusti Allah ?” tanya Somad.

” Kok, to the point Mad, ga seperti biasanya.” Jawab Kang Soleh.

“ Edisi puasa kang….he..he…” jawab Somad.

”Rasa bangga yang berlebihan biasanya muncul karena kita merasa memiliki atas hal yang dibanggakan.” , jawab Kang Soleh.

” Stop....stop ...kang !!” sergah Somad.

” Ya ... jelas memiliki to kang.... memang punya sendiri.....”

” Sekarang kamu lihat, kalau kamu pergi ke sebuah tempat. Kemudian mobil kamu dititipkan ke tukang parkir.”

” Tukang parkir dengan sepenuh tenaga akan menjaga mobil kamu kan ? ’ tanya kang Soleh.

” Sudah semestinya kang.... ”, jawab Somad.

” Tukang parkir, bangga tidak atas mobil yang kamu titipkan ? ” tanya kang Soleh.

” Ya ... engga lah kang .....”, jawab Somad.

” Nah.... itu jawabannya......” celetuk kang Soleh.

” Sekarang kita lihat, bukan hanya masalah kebendaan seperti kasusmu adalah mobil. Kita lihat sekarang amaliah seseorang dalam kaitannya dengan kebanggaan. Apakah kebanggaan akan amal ibadah diperbolehkan ? ”

” Termasuk dosa kang ....” jawab Somad.

” Right......:”, jawab Kang Soleh.

Somadpun terkekeh-kekeh... tumben Kang Soleh bilang ”right”.

”Terus, gimana ngobati penyakit bangga terhadap amalnya kang ?, tanya Somad.

” Ya.... jadilah seperti tukang parkir.” jawab Kang Soleh enteng.

”Yang lebih jelas gimana kang ?, tanya Somad

” Ketika seseorang melihat dari dalam dirinya terasa sifat membanggakan amalnya, hendaklah ia bertafakur dan berkata kepada dirinya, "Amalku ini dilakukan oleh anggota badanku, kemampuanku, dan kehendakku sedangkan semuanya itu bukan dari diriku dan bukan ditujukan kepada diriku melainkan bahwa semua itu adalah ciptaan dan anugerah Allah swt.

Dialah yang menciptakan badan dan nyawaku, Dialah pula yang menciptakan kemampuan dan kehendakku, Dialah yang menggerakkan anggota badanku demikian pula kemampuan dan kehendakku, bagaimana aku dapat membanggakan amalku bahkan membanggakan diriku, sedangkan semuanya itu dari Tuhan Penciptaku ?"


Wallahu a’lam.


Kang Tris Selengkapnya...

www.ihsan.co.nr DI BALIK SEBUAH PENGHINAAN


Beberapa hari setelah Somad berkunjung ke tempat Kang Soleh, dan diberi beberapa hikmah tentang kesandung hinaan, terlihat Somad berkunjung lagi ke tempat Kang Soleh.

Setelah berbasa - basi sebentar, Kang Solehpun bertanya kepada Somad.

" Kok masih murung Mad ?" tanya Kang Soleh.

" Saya masih belum bisa merasakan obrolan kang Soleh tentang kesandung hinaan, beberapa hari yang lalu. Otak saya memahami, saat bersama kang Soleh disinipun seolah bisa menikmati perjalanan Kangjeng Nabi, ketika dilempari kerikil sampai berdarah kakinya. Namun, saat saya pulang ke rumah perasaan saya kecewa, dan sakit hati masih selalu menggelayut di dada. Tetap saja tidak mau menerima sebuah penghinaan. Bahkan rasa ini... semakin menjadi - jadi, karena merasa didzolimi....".

"Wah...wah....kok, agak parah gitu..." sela Kang Soleh.

Belum selesai pembicaraan Kang Soleh dan Somad, tiba - tiba Badrun ikut masuk ke tempat Kang Soleh. Ia terlihat berjalan sambil memegang pipinya.

" Kamu kenapa, kok pegang - pegang pipi ?" tang Kang Soleh.

" Habis cabut gigi kang, masih terasa sakit." jawab Badrun singkat.

" Lo kok, dicabut giginya ? " tanya Kang Soleh.

" Ya, karena sakit gigi lah kang..." jawab Badrun.

" Waktu dicabut sakit juga ?" tanya lagi Kang Soleh.

" Kok tanyanya aneh gini kang ?" jawab Badrun agak cemberut.

" Ya, nanya saja.... memang ga boleh ?" senyum Kang Soleh.

" Ya... jelas sakit kang, sakitnyapun lebih sakit dibanding waktu sakit gigi, tapi kalau sudah dicabut, nanti kan sakit giginya jadi hilang." jawab Badrun.

Suasana kembali sepi, Somadpun ikut terdiam mendengar obrolan Badrun dengan kang Soleh.

Setelah beberapa lama terdiam, Kang Solehpun berkata,

” Belajarlah dari sakit giginya Badrun, Mad ? celoteh Kang Soleh kepada Somad.

” Maksudnya gimana kang ?” tanya Somad.

” Badrun, rela merasakan sakit gigi yang berlebih ketika dicabut giginya oleh seorang dokter, karena Badrun mempunyai pengetahuan dan keyakinan, bahwa setelah dicabut giginya, rasa sakit gigi akan hilang.” jawab Kang Soleh.

” Masih belum paham kang ....” sergah Somad.

Sejenak kemudian, kang Soleh berkata :

” Sebuah penghinaan dari orang lain atau bahkan didzolimi orang lain, sesungguhnya merupakan sarana atau obat untuk membersihkan kotoran – kotoran dari dalam batinnya sendiri. Sehingga bila kotoran – kotoran telah tercabut, dan berangsur – angsur menjadi bersih... maka anugerah yang lain akan mudah diterima.”

” Barangkali kamu tidak ingat, ketika ngaji ke abah, ada kalimat indah yang diberikan, ”jika orang didzolimi orang lain tapi hatinya sedikitpun tidak merasa sakit. Atau hatinya merasa sakit tapi malah bersyukur karena yakin bahwa kesakitan tersebut sesungguhnya merupakan obat yang akan menyembuhkan penyakit yang ada dalam batinnya sendiri, maka itulah pertanda bahwa orang tersebut adalah orang yang mengenal hakikat hidup.”

”Agak sedikit paham kang .....” celoteh Somad agak lirih.

” Yakinlah, bahwa penghinaan yang menimpamu itu merupakan obat yang menyembuhkan penyakit hati yang ada dalam batinmu, seperti Badrun yang sanggup menahan rasa sakit ketika dicabut giginya, karena ia yakin dicabut giginya merupakan sarana untuk melepas sakit gigi yang berkelanjutan.

Ketika sakit gigi, sudah tidak ada, maka Badrunpun siap memakan makanan yang ia sukai, tanpa takut merasa sakit gigi lagi. Itulah anugerah, setelah ia mencabut giginya.”

Wallahu a’lam.


Kang Tris
Selengkapnya...

www.ihsan.co.nr MENUNGGU PANGGILAN


“Kasihan banget kang, kalau lihat saudara – saudara kita, kemarin yang rela antri untuk mendapatkan sekilo daging kurban.” kata Somad.

“Kasihan gimana ?” balas Kang Soleh.

”Ya, kasihan mereka rela antri berjam – jam, untuk mendapatkan sekilo daging. Belum lagi harus berdesak – desakan.” jelas Somad.

”Untuk memenuhi sebuah panggilan” sela Kang Soleh.
”Iya kang, panggilan untuk mendapatkan sekilo daging. he..he...” jawab Somad sambil terkekeh – kekeh..

” Sebenarnya yang kasihan bukan hanya mereka kok !” balas Kang Soleh.

Belum selesai mereka bercengkrama, tiba – tiba muncul di depan pintu Edi, seorang kontraktor yang juga sering ikut nongkrong di tempat Kang Soleh.

”Bos yang satu ini, nih...juga kasihan nunggu panggilan...” ledek Kang Soleh kepada Edi.

”Maksud panggilan gimana kang ? ” tanya Edi.

”Ya ... nunggu panggilan dapat proyek, dapat tender, dapat pekerjaan.” jawab Kang Soleh.

” Ya nunggunya kasihan kang..... tapi kalau dapat proyek kasihannya terbayarkan.” jawab Edi kalem.

” Namun, sebenarnya kita semua kasihan kok ! ” celetuk Kang Soleh.

” Jelasnya gimana to ? ” tanya Somad yang dari tadi terlihat antusias.

” Tidak sedikit dari saudara – saudara kita rela antri untuk sekedar mendapat penggilan demi sekilo daging kurban. Edi inipun, rela menunggu dan menjalani berbagai proses untuk menunggu panggilan untuk mendapatkan sebuah proyek. Setelah proyek didapat, untuk mendapatkan keuntungan harus melalui proses yang tidak sederhana dan berliku.”

Namun ada sebuah panggilan yang begitu pasti keuntungannya, bahkan keuntungan itupun sudah dikasih persekot terlebih dulu, namun kita sering menyepelekan panggilan itu....”

Panggilan dari siapa ......? Panggilan dari Gusti Alloh.

Betapa banyak dari kita begitu terburu – buru memenuhi panggilan dari bosnya, dari atasannya, namun begitu santai memenuhi panggilan adzan.”

Mendengar uraian kalimat dari Kang Soleh, Edi dan Somad bertatapan saling melongo.


Kang Tris Selengkapnya...

Jumat, 17 Desember 2010

www.ihsan.co.nr MENJUAL "KEPERAWANAN"


Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:

'' Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang? "

'' Tidak! '' Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

'' Lantas untuk apa anda duduk di sini?"

'' Apakah tidak boleh? '' Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..

'' Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.''

'' Maksud, bapak? "

'' Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ''

'' Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual '' Kata wanita itu dengan suara lambat.

'' Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ''

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.

'' Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ''

'' Saya ingin menjual diri saya, '' Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

'' Mari ikut saya, '' Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.

Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

'' Apakah anda serius? ''

'' Saya serius '' Jawab wanita itu tegas.

'' Berapa tarif yang anda minta? ''

'' Setinggi-tingginya. ."

'' Mengapa?" Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.

'' Saya masih perawan ''

'' Perawan? '' Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya

'' Bagaimana saya tahu anda masih perawan?''

'' Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan?''

'' Kalau tidak terbukti? "

'' Tidak usah bayar ...''

'' Baiklah ...'' Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.

'' Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ''

'' Cobalah. ''

'' Berapa tarif yang diminta? ''

'' Setinggi-tingginya. ''

'' Berapa? ''

'' Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ''

'' Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ''

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.

'' Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?''

'' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''

'' Ini termasuk yang tertinggi, '' Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.

'' Saya ingin yang lebih tinggi...''

'' Baiklah. Tunggu disini ...'' Petugas satpam itu berlalu.

Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

'' Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?''

'' Tidak adakah yang lebih tinggi?''

'' Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh... ''

'' Saya ingin tawaran tertinggi ... '' Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.

'' Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. '' Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

'' Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas satpam itu dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu ...

'' Berapa? '' Tanya pria itu kepada Wanita itu.

'' Setinggi-tingginya '' Jawab wanita itu dengan tegas.

'' Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? '' Kata pria itu kepada sang petugas satpam.

'' Rp.. 6 juta, tuan ''

'' Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ''

Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.

'' Bagaimana? '' tanya pria itu.

''Saya ingin lebih tinggi lagi ...'' Kata wanita itu.

Petugas satpam itu tersenyum kecut.

'' Bawa pergi wanita ini. '' Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.

'' Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ''

'' Tentu! ''

'' Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu ... ''

'' Saya minta yang lebih tinggi lagi ...''

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.

Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.

'' Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ''

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

'' Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah
itu tidak cukup? " Terdengar suara pria itu berbicara.

Wajah pria itu nampak masam seketika

'' Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ''

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.

Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.

Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: '' Pak, apakah anda butuh wanita ... ??? ''

Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.

'' Ada wanita yang duduk disana, '' Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.

Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.

"Dia masih perawan..''

Pria itu mendekati petugas satpam itu.

Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. '' Benarkah itu? ''

'' Benar, pak. ''

'' Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu ... ''

'' Dengan senang hati. Tapi, pak ...Wanita itu minta harga setinggi tingginya.''

'' Saya tidak peduli ... '' Pria itu menjawab dengan tegas.

Pria itu menyalami hangat wanita itu.

'' Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ....'' Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.

'' Mari kita bicara di kamar saja.'' Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar ...

'' Beritahu berapa harga yang kamu minta? ''

'' Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ''

'' Maksud kamu? ''

'' Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih .... ''

'' Hanya itu ...''

'' Ya ...! ''

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanita ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

'' Siapa nama kamu? ''

'' Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar ... '' Kata wanita itu

'' Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ''

''Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ''

'' Ada ! " Kata pria itu seketika.

'' Sebutkan! ''

'' Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah ... '' Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

'' Saya tidak mengerti ...''

'' Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar ...''

'' Dan, apakah bapak ikhlas...? ''

'' Apakah uang itu kurang? ''

'' Lebih dari cukup, pak ... ''

'' Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ''

'' Silahkan ...''

'' Mengapa kamu begitu beraninya ... ''

'' Siapa bilang saya berani. Saya takut pak ... Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh`... Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan ... ''

'' Keyakinan apa? ''

'' Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita ... '' Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:

'' Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini ... ''

'' Kesadaran... ''

...

Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
'' Kamu sudah pulang, nak ''

'' Ya, bu ... ''

'' Kemana saja kamu, nak ... ???''

'' Menjual sesuatu, bu ... ''

'' Apa yang kamu jual?'' Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum ...

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan....

'' Kini saatnya ibu untuk berobat ... ''

Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: '' Tuhan telah membeli yang saya jual... ''.

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi:
''Antar kami ke rumah sakit"


Selengkapnya...

SELAMAT DATANG