
Suatu petang selepas shalat Isya, seseorang datang ke tempat kang Soleh. Pakaiannya rapi, di saku bajunyapun terselip sebuah pulpen parker. Sorot matanya tajam, walau dibalut kaca mata minus. Kedatangannya ke tempat kang Soleh hanya ingin berkonsultasi tentang merasakan manisnya ibadah.
Setelah berbasa – basi, orang itupun mulai bertanya kepada kang Soleh.
”Maaf nih kang, saya sudah bertanya ke beberapa orang tentang suatu hal, yang menurut saya, sulit untuk difahami oleh saya. Penjelasan yang diberikan oleh orang – orang yang saya ajak bicara, hanya bersifat verbal dan sulit difahami oleh akal sehat saya” celoteh orang itu.
”Lo... kalau sampeyan, sudah bertanya ke beberapa orang mengapa masih tanya kepada saya ?” jawab kang Soleh.
”Nah... justru saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan, makanya saya ingin bertanya kepada kang Soleh.”
”Jadi... apa nih, masalah sebenarnya ?”, tanya kang Soleh sambil tersenyum.
”Merasakan manisnya ibadah kang ..... ” celetuk orang itu.
”Lo... itu sudah jelas, tidak sedikit dalil yang menerangkan tentang manisnya ibadah.” jawab kang Soleh.
”Justru itu kang, saya dibuat pusing....... sekarang logikanya begini kang, bagaimana mungkin ibadah kok terasa manis ? kalau maksiat dibilang manis, itu masuk logika kang.” sergah orang itu.
Diam – diam kang Soleh mulai mengetahui arah pembicaraan orang yang ada di depannya. Dari bibirnyapun terdengar lirih lantunan istighfar. Sementara kang Soleh masih terdiam, orang itupun berkata lagi.
”Sekarang begini kang, seumpama saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai kepala bagian purchasing, otomatis semua vendor – vendor yang ingin memasukkan barang ke tempat perusahaan saya bekerja, keputusannya ada di tangan saya. Nah, di posisi yang seperti ini kang, bukankah korupsi merupakan hal yang manis ? dan saya pun yakin banyak orang yang mengidam – idamkann posisi seperti yang saya tempati. Kenapa ? karena posisi basah kang, kenapa basah ? ya ... karena banyak sumber uang yang bisa dikorupsi.”
Mendengar ocehan orang itu, kang Solehpun masih terdiam. Melihat diamnya kang Soleh orang itupun kembali melanjutkan bicaranya.
”Terus sekarang kan lagi ramai – ramainya piala dunia kang, sudah menjadi tren khususnya di kota – kota, ada acara nonton bareng piala dunia. Nah... biar lebih jreng ada juga yang pakai taruhan, biar lebih semangat... kalau jagoannya menang, selain senang, masih ada bonusnya kang... yakni dapat uang taruhan, yang begini ... nih... kan manis namanya.”
”Ada juga yang tidak kalah hebohnya kang sekarang, ”video porno mirip artis”, yang ini nih kang... dari bos sampai cleaning service berebut ikutan nonton, apalagi begitu maraknya pemberitaan sehingga memancing rasa keingintahuan khalayak, termasuk anak – anak SD kang ? masak mau dilarang melihat video itu ?”
Sesaat kemudian, orang itu terlihat mengakhiri pembicaraannya. Kang Solehpun masih terdiam termangu – mangu mendengar penuturan orang itu. Dalam lubuh hati yang terdalam kang Soleh berkata, ”orang seperti ini belum tentu terbuka hatinya, bila dijawab langsung dengan menukil ayat – ayat Al Qur’an ataupun Al Hadits, bagi dia hanya jawaban yang masuk logika yang bisa ia terima.”
”Sudah, hanya itu ceritanya ?” mendadak kang Soleh bertanya.
”Ya itu kang, realita yang ada sekarang... yang membuat saya tidak bisa mengerti, dan memahami, ”merasakan manisnya ibadah.” jawab orang itu.
Setelah terdiam sebentar, sesaat kemudian kang Soleh berkata,
” Mau minum kopi atau teh manis, ni ?”
” Teh manis, saja kang..... kalau tidak merepotkan”, jawab orang itu.
Sesaat kemudian, kang Solehpun meminta isterinya membuatkan dua gelas teh manis untuk dirinya dan orang itu. Setelah sama – sama meminum, kang Soleh berkata.
” Teh ini.... rasanya manis ya ? ”
” Ya ... iya lah kang, wong pakai gula... ya jelas manis rasanya.” jawab orang itu.
” Tapi, ada juga lo.... orang yang tidak bisa merasakan manisnya gula ?” balas kang Soleh.
”Ga mungkin kang.... sudah dari sononya gula rasanya manis, mau bodoh, mau pinter, mau pejabat, mau pengemis.... kalau minum pakai campuran gula...jelas rasanya manis.” jawab orang itu.
”Orang yang sedang sakit............” jawab kang Soleh.
Orang itupun tersenyum .... mendengar jawaban kang Soleh. Sesaat kemudian kang Soleh melanjutkan kata – katanya.
”Orang yang sedang sakit, tidak bisa merasakan manisnya gula. Terlepas yang sakit oranga bodoh, orang pinter, pejabat, pengemis, di saat sedang sakit, gula yang sejatinya rasanya manis terasa pahit di lidah orang sakit itu.”
”Rasa pahit yang ia rasakan, bukan karena gula tidak manis rasanya, namun karena ia sedang dalam keadaan sakit...., ia tidak bisa merasakan manisnya gula.... melainkan pahit, walaupun rasa gula yang sesungguhnya rasanya manis.”
”Orang yang sakit, bisa kembali merasakan manisnya rasa gula, ketika ia sudah menjadi sehat. Ia bisa menjadi sehat dikala penyakit – penyakit dalam tubuhnya sudah diobati dengan obat yang sesuai untuk penyakitnya, serta ditangani oleh dokter yang memang ahli mengobati penyakit tersebut.”
”Di saat sakitnya telah sembuh, dan sehatnya telah kembali, maka orang tersebut ketika meminum teh manis... bukan lagi pahit yang ia rasakan seperti rasa saat sakit, melainkan manis yang ia rasakan sebagaimana rasa yang dialami oleh orang – orang sehat lainnya.”
Mendengar penuturan dari kang Soleh, wajah orang itu sedikit kelihatan pucat....diam – diam, ia mulai sedikit memahami pembicaraan kang Soleh. Setelah menghela nafas, untaian kalimat meluncur dari kang Soleh.
”Orang yang hatinya mengidap penyakit tidak akan bisa merasakan manisnya ibadah, walaupun dijelaskan dengan penjelasan panjang lebarpun tidak akan bisa menerimanya, sebagaimana orang yang sedang sakit tidak bisa merasakan manisnya gula, walaupun dijelaskan secara ilmiah tentang zat pemanis yang terkandung di dalam gula.”
”Orang bisa merasakan manisnya ibadah, dikala penyakit – penyakit di hatinya telah terobati, serta ditangani oleh guru pembimbing yang sempurna sebagaimana ditangani oleh dokter – dokter ahli”
”Begitu mutlaknya guru pembimbing, karena hanya dengan bimbingannyalah kita mengetahui jenis – jenis penyakit yang ada dalam hati kita, sebagaimana seorang dokter lebih mengetahui jenis penyakit yang diderita oleh tubuh kita, dibanding diri kita sendiri yang penuh kebodohan.”
”Orang – orang yang sakit hatinya, walaupun sedang beribadah di hamparan permadani Rabbani dan berhadapan secara langsung secara hakiki dengan Allah SWT, tidak bisa merasakan manisnya sebuah ibadah, padahal Allah sudah sangat dekat dan bahkan lebih dekat dari urat lehernya sendiri.”
Wallahu’alam.
(KangTris)
Selengkapnya...
Kamis, 24 Juni 2010
DUA GELAS TEH
Diposting oleh Metha des Innocents di 19.47 0 komentar
Label: Hikmah
Jumat, 16 April 2010
PERNIKAHAN

Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam al-Quran sebagai miitsaaqun ghaliizh, perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan semata-mata sarana mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.
Pernikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Bagi pasangan yang masing-masing mempunyai niat tulus untuk membangun mahligai kehidupan bersama dan menyadari bahwa pernikahan ialah tanggungjawab dan amanah, maka pernikahan mereka bisa menjadi sorga. Apalagi, bila keduanya saling menyintai.
Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang artinya,“Perhatikanlah baik-baik istri-istri kalian. Mereka di samping kalian ibarat titipan, amanat yang harus kalian jaga. Mereka kalian jemput melalui amanah Allah dan kalimah-Nya. Maka pergaulilah mereka dengan baik, jangan kalian lalimi, dan penuhilah hak-hak mereka.”
Ketika berbicara tentang tanggungjawab kita, Rasulullah SAW antara lain juga menyebutkan bahwa “Suami adalah penggembala dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya dan isteri adalah penggembala dalam rumah suaminya dan bertanggungjawab atas gembalaannya.”
Begitulah, laki-laki dan perempuan yang telah diikat atas nama Allah dalam sebuah pernikahan, masing-masing terhadap yang lain mempunyai hak dan kewajiban. Suami wajib memenuhi tanggungjawabnya terhadap keluarga dan anak-anaknya, di antaranya yang terpenting ialah mempergauli mereka dengan baik. Istri dituntut untuk taat kepada suaminya dan mengatur rumah tangganya.
Masing-masing dari suami-isteri memikul tanggungjawab bagi keberhasilan perkawinan mereka untuk mendapatkan ridha Tuhan mereka. Apabila masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya daripada menuntut haknya saja, Insya Allah, keharmonisan dan kebahagian hidup mereka akan lestari sampai Hari Akhir. Sebaliknya, apabila masing-masing hanya melihat haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi beban yang sering kali tak tertahankan.
Masing-masing, laki-laki dan perempuan, secara fitri mempunyai kelebihan dan kekurangannnya sendiri-sendiri. Kelebihan-kelebihan itu bukan untuk diperbanggakan atau diperirikan. Kekurangan-kekurang pun bukan untuk diperejekkan atau dibuat merendahkan. Tapi, semua itu merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi. Kedua suami-isteri bersama-sama berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak yang mulia dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian, akan terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.
(GusMus)
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 01.18 0 komentar
Label: Hikmah
Senin, 01 Maret 2010
HAJIKU DI DEPAN RUMAH...

Abu Nashr pernah datang menemui Bisyr bin Harits yang telah menyiapkan perbekalan untuk melaksanakan ibadah haji. "Berapa biaya yang kamu siapkan untuk hajimu?" Tanya Nashr. "Seribu Dirham". Jawabnya. "Kamu berhaji ingin bertamasya, rindu kepada Ka'bah, ingin mencari ridlo Allah, atau mungkin ada maksud tujuan lain?" Tanya Abu Nashr lagi.
Pertanyaan sepele, tapi Bisyr tak mampu menjawab pertanyaan tentang motivasi kepergian hajinya. "Untuk mencari ridlo Allah", jawab Bisyr. "Jika kamu ingin mencari keridloan Allah, tetaplah kamu di sini, tak usah pergi ke Makkah, tapi sedekahkanlah seribu dirham biaya hajimu, maka aku yakin kamu akan menggapai ridlo Allah. Apakah kamu akan menjalankan nasehatku ini?". Kali ini Bisyr berpikir lebih lama dari semula, dan akhirnya ia menjawab, "Ya, aku akan menuruti nasehatmu".
"Kalau begitu, keluar dan lunasilah hutang sepuluh muslim. Sedang sisanya berikanlah kepda fakir miskin, anak-anak yatim, dan para janda miskin. Gembirakanlah hati mereka semua karena menggembirakan hati muslim dan menolong orang yang tertimpa kesusahan, lebih afdhal dari seratus kali haji. Keluarlah sekarang juga, atau katakan apa yang ada di hatimu!. "Wahai Abu Nashr, hatiku lebih cenderung untuk menuaikan ibadah haji". Mendengar jawaban Bisyr dengan tersenyum Abu Nashr berkata, "Sesungguhnya harta bila dikumpulkan dari perdagangan yang tak bersih dan mengandung subhat, maka Allah akan memperbanyak rasa kebutuhan orang itu. Dan sesungguhnya Allah telah bersumpah, bahwa ia takkan menerima sodaqoh kecuali dari orang-orang yang taqwa."
Anda tak perlu penasaran dengan kelanjutan kisah yang termaktub di dalam Kitab al-Yawaaqid al-Jauhariyyah, karya al-habib Idrus al-Idrus. Yang jelas serta pasti pula, nasehat tersebut jauh dari maksud merendahkan arti ibadah haji. Hanya ada perbedaan dalam menentukan wajib tidaknya ibadah haji bagi seseorang, terutama bila mengingat situasi dan kondisi yang ada.
Di tengah kecenderungan masyarakat untuk memaksakan diri menuaikan ibadah haji ada baiknya kita renungkan nasehat Abu Nashr tadi. Lebih-lebih bila mengingat calon haji dari melecehkan ibadah haji itu sendiri. Seperti berhaji untuk rekreasi, bertujuan politis, berdagang, sekalian mampir dan lain-lain. Walhasil bukan termasuk yang ikhlas dan dipanggil", mereka bagai tamu yang tak diundang.
Tamu-tamu yang tak diundang ini, jasadnya melancong ke tanah suci tetapi ruh mereka tak ikut serta. Dan andaikata Abu Nashr bertemu mereka hampir dapat dipastikan beliau akan melarang mereka pergi naik haji. Bagaimana tidak, sedang saudara mereka sendiri banyak hidup dalam kemelaratan? Belum lagi dengan nasib para janda, anak-anak yatim, kaum miskin dan mereka yang dililit hutang, mereka yang terbaring, sekarat tak mampu membeli obat dan lain-lain?.
Memang kewajiban melaksanakan ibadah haji bukan ditentukan dengan masih ada tidaknya kaum dhuafa, namun bila semata-mata untuk mencari keridloan Allah maka kepedulian terhadap mereka perlu dipertimbangkan. Lebih-lebih bagi mereka yang telah lepas dari kewajiban, yaitu mereka yang sudah pernah berhaji.
Rasulullah SAW dalam sebuah sabdanya pernah mensinyalir bahwa kelak akhir zaman akan muncul empat macam hujjaj yang berhaji dengan berbagai motivasi:
1. Para pemimpin berhaji untuk rekreasi,
2. Orang-orang kaya untuk berdagang,
3. Orang-orang miskin untuk meminta-minta, dan
4. Para qori (pembaca al-Quran) untuk mencari popolaritas.
Mereka yang berhaji dengan berbagai keniatan ini, termasuk para tamu yang tidak diundang. Mereka akan minus dalam fadhilah, hikmah dan akan kembali hanya dengan sebutan Pak Haji/Bu Hajah. Kini sudah saatnya para tamu tak diundang dan calon hajjaj untuk mengasah kepekaan mereka terhadap nasib saudara, tetangga, dan lingkungan mereka sendiri. Yang perlu diingat kepedulian terhadap mereka, termasuk salah satu barometer untuk menimbang keimanan seseorang. Bukanlah Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang, hingga ia mencintai saudara muslimnya sebagaiamana ia mencintai dirinya sendiri?"
Abdullah bin Mubarak pernah menceritakan:
Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji setelah selesai menunaikan tahap demi tahap rangkaian ibadah haji, beliau tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.
“Berapa banyak jamaah yang datang tahun ini?” Tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“600.000,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak dari mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” Beliaupun menangis.
“Semua orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Pikir Ibnu Mubarak sedih
“ Kecuali hanya seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama.
“Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Bahkan berkat dialah ibadah seluruh jamaah haji ini diterima oleh Allah.” Lanjut malaikat pertama menerangkan.
Ketika Abdullah Ibnu Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damasykus mencari orang yang bernama Ali bin Muwaffaq itu. Dia telusuri tempat tinggal Muwaffaq sampai beliau temukan. Dan ketika diketuk pintunya, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya tentang namanya.
“Assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh!” Sapa Ibnu Mubarak sambil mengetuk pintu.
“Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” Tanya Ibnu al-Mubarak kepada lelaki yang ditemuinya.
“Aku Ali bin Muwaffaq, penjual sepatu. Siapakah Anda?”
Kepada lelaki itu Ibnu al-Mubarak menerangkan jadi dirinya dan maksud kedatangannya. Setelah tahu siapa yang datang serta maksud dan tujuannya. Tiba-tiba Muwaffaq menangis dan jatuh pingsan.
Ketika sadar, Ibnu Mubarak memohon agar Muwaffaq berkenan untuk menceritakan semua yang dia alami terkait dengan hajinya. Dia mengatakan bahwa selama 40 tahun dia telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Untuk itu telah terkumpul dana sebanyak 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Maka tahun ini dia memutuskan untuk pergi ke Mekkah.
Suatu hari istrinya yang sedang hamil mencium aroma sedap makanan yang sedang dimasak tetangga sebelah rumahnhya. Kemudian si istri memohon kepadanya agar ia bisa mencicipinya sedikit. Lalu Muwaffaq pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya.
Saat Muwaffaq mengutarakan maksud kedatangannya, tetangga itupun mendadak menagis.
“Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya.
“Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Terang tetangganya sambil menangis.
Saat mendengar cerita itu hati Muwaffaq serasa terbakar. Maka tabungan yang terkumpul untuk berhaji sebanyak 350 dirham diberikan kepadanya.
“Belanjakan ini untuk anakmu,” kata Muwaffaq.
“Inilah perjalanan hajiku.” kata Muwaffaq dalam hati.
“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah Ibnu Mubarak selepas menemui Muwaffaq.
“Dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”
( Beliau bernama Abdullah bin al-Mubarak, Abu Abdurrahman al-Marwazy, Maula Bani Hanzhalah. Beliau lahir di salah satu kota yang terdapat di Khurasan yang dikenal dengan nama Marwaz pada tahun 118H /726 M dari rahim seorang ibu keturunan Khawarizmi (Persia) dan ayah yang berkebangsaan Turki. Secara fisik beliau sangat mirip dengan ayahnya. Beliau wafat pada tahun 181 H/797 M setelah beliau kembali dari berjihad, dan jasad beliau yang mulia dikuburkan di desa Hayyat Bagdad.
Abdullah bin al-Mubarak tumbuh dan besar di Marwaz yang merupakan kota kelahirannya, beliau terdidik di tengah keluarga shaleh yang senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman lagi wara’. Pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya beliau belajar pada sebuah sekolah dan menimba ilmu-ilmu dasar disana, maka pada masa itu tampaklah kecerdasan dan kecepatan beliau dalam menghafal sebagaimana persaksian salah seorang teman yang selalu bersamamnya dia berkata: “Ketika kami masih duduk ditaman kanak-kanak aku bersama Ibnu al-Mubarak melewati seseorang yang sedang berkhutbah, dimana khutbah yang disampaikan oleh orang tersebut sangat panjang, setelah khutbah selesai Ibnu al-Mubarak berkata kepadaku: ‘Aku telah menghafalkan seluruh isi khutbah tersebut’. Seseorang yang ada disekitarnya mendengarkan perkataan Ibnu al-Mubarak lalu berkata: ‘kalau memang demikian sampaikanlah khutbah yang baru saja disampaikan oleh khatib tadi!’, kemudian Ibnu al-Mubarak mengulangi isi khutbah tersebut tanpa menambah dan menguranginya”)
( Duratun Nasihin )
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 02.45 0 komentar
Label: Hikmah
Jumat, 19 Februari 2010
SANG BIDADARI DARI SYURGA

Suatu pagi di sebuah pesantren di Karanggedang Bukateja terlihat seorang gadis berwajah ayu duduk termenung di sebuah sudut ruangan. Tatapan matanya terlihat sedikit sendu. Sedangkan disampingnya terlihat seorang ibu yang sudah renta menemani gadis itu.
Sementara itu, didalam masjid tampak Kyai Ilyas masih menunaikan sholat dhuha sedangkan para santri terlihat ada yang sedang membersihkan halaman, ada juga yang masih terlihat membaca sebuah kitab kuning. Sementara disisi lain, terlihat beberapa santri yang terlihat lebih berumur bersiap – siap sambil menjinjing kitab ”Ihya ’Ulumuddin”, karena kebetulan hari itu jadwal kajian kitab tersebut.
Setelah beberapa lama, terlihat Kyai Ilyas turun dari masjid menuju rumah. Umurnya sudah termasuk udzur, langkahnya pelan serta sedikit menunduk ke depan, sementara di tangan kanannya masih tampak memegang seutas tasbih.
” Wis suwe Na ?” tanya Kyai Ilyas kepada putrinya. ”Belum kok, bah.” jawab Ana. Rupanya yang datang adalah putri Kyai Ilyas sendiri. Ana Nuraeni namanya. Kemudian terlihat Ana dan Kyai Ilyas ngobrol kesana kemari tentang kondisi keluarga. Rupanya Ana adalah putri sulung Kyai Ilyas yang sudah berumah tangga dengan Ghufron, santri dari Kyai Ilyas sendiri. Mereka kebetulan tinggal di Desa Kutawis, tidak jauh dari pesantren Kyai Ilyas. Ghufron sehari – hari mengajar di sebuah Madrasah Aliyah di Purbalingga, sedangkan Ana sendiri menyibukan hari – harinya dengan memberikan kursus bahasa arab secara privat ke beberapa anak di Bukateja, Kemangkon, Rakit, bahkan di Purbalingga.
”Bah, kebetulan sekarang yang minta kursus privat bahasa arab semakin banyak, nih bah.” Ana mulai berbicara serius kepada Kyai Ilyas. ”Wah bagus itu, berarti ladang beramal kamu semakin banyak.” jawab Kyai Ilyas. ”Namun begini bah, waktu saya semakin banyak yang tersita, sehingga pekerjaan di rumah mulai keteteran, apa sebaiknya Ana ambil pembantu dari santri Abah ?” tanya Ana Nuraeni kepada Kyai Ilyas. ”Wah, itu ga apa – apa, kalau memang menurut kamu merasa bermanfaat.” kata Kyai Ilyas. Namun sesaat kemudian Kyai Ilyas, melanjutkan kata – katanya, ” Namun demikian, bolehkah abahmu ini sedikit bercerita tentang seorang bidadari surga.” Bidadari siapa bah ?” tanya Ana. ”Bidadari itu bernama Fatimah az Zahra, puteri Rasulullah saw”.
”Suatu hari Ali mendengar bahwa Rasulullah saw mendapat beberapa orang budak. Maka iapun meminta kepada Fatimah untuk pergi menemui Rasulullah guna meminta salah satu budak agar bisa meringankan pekerjaan Fatimah. Pergilah Fatimah memenuhi permintaan Ali, tapi sesampainya di tempat Rasulullah ia malu menyampaikan maksud kedatangannya, iapun pamit pulang. Sesampainya di rumah ia menceritakannya pada Ali. Lalu Ali mengajak Fatimah kembali menemui Rasulullah, karena Fatimah diam saja, akhirnya Ali lah yang meminta kepada Rasulullah untuk memberi mereka salah satu budak agar bisa meringankan pekerjaan Fatimah. Tapi Rasulullah tidak bisa mengabulkan permintaan keduanya, karena hasil penjualan budak-budak tersebut akan dibelikan makanan untuk para fakir miskin. Pulanglah pasangan tersebut tanpa ada sedikitpun rasa kecewa di hati keduanya. Tapi pemandangan itu menyentuh hati Rasulullah sebagai seorang ayah. Malamnya Rasulullah mendatangi putrinya Fatimah, beliau bersabda: "Maukah kalian berdua aku beri sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta?" keduanya menjawab dengan serentak: "tentu ya Rasulullah." Rasulullah berkata: "kalimat yang diajarkan Jibril ; Membaca tasbih 10 kali, tahmid 10 kali dan takbir 10 kali setiap selesai sholat. Dan apabila kalian hendak tidur bacalah tasbih 33 kali , tahmid 33 kali dan takbir 34 kali."
”Kisah Fatimah az Zahra, tidak hanya itu saya yakin kamu masih ingat Nasehat Rasulullah saw kepada Siti Fatimah tentang penggilingan gandum kan ?” tanya Kyai Ilyas. ” Tentu masih ingat bah.” jawab Ana sambil menunduk. ”Saya yakin kamu bisa membayar gaji pembantu itu, namun yang belum saya yakini adalah niatmu mengambil pembantu itu. Apakah benar – benar ikhlas membagi ilmu bahasa arabmu ? atau karena terpancing mengejar banyaknya bayaran dari kursusmu itu ? ” begitu ungkapan Kyai Ilyas kepada putrinya. Mendengar pertanyaan dari Abahnya, Ana tertunduk malu, kemudian ia berkata lirih kepada Abahnya, ” saya malu bah, malu kepada keluhuran akhlak puteri baginda Rasulullah saw, dan malu karena niat saya yang belum lurus”.
(KangTris),
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 20.30 0 komentar
Label: Hikmah
NASEHAT RASULULLAH UNTUK FATIMAH

Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anakndanya Fatimah az-zahra rha. Didapatinya anakndanya sedang menggiling syair (sejenis bijirin) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis.
Rasulullah SAW bertanya pada anakndanya, "Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fatimah? semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". Fatimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtangga lah yang menyebabkan anaknda menangis".
Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anakndanya. Fatimah rha melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta 'Ali (suaminya) mencarikan anaknda seorang jariah untuk menolong anaknda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah?".
Mendengar perkataan anakndanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim".
Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anakndanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.
Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW, demi Allah, Tuhan yang telah menjadikan engkau dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah engkau menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".
Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fatimah az-zahra di dalam syurga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.
Rasulullah SAW bersabda kepada anakndanya, "Jika Allah SWT menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.
Ya Fatimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.
Ya Fatimah, perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.
Ya Fatimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang.
Ya Fatimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.
Ya Fatimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keredhaan suami terhadap isterinya. Jikalau suamimu tidak redha denganmu tidaklah akan aku do'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa redha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?.
Ya Fatimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil.
Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga, dan Allah SWT akan mengkurniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.
Ya Fatimah, perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya satu persalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikurniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.
Ya Fatimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat.
Ya Fatimah, perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menghias rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit(malaikat), "teruskanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang".
Ya Fatimah, perempuan mana yang meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya sertakukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai syurga dan Allah SWT akan meringankan sakratulmautnya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga serta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Sirat".
(KangTris)
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 20.26 0 komentar
Label: Hikmah
Rabu, 17 Februari 2010
BAKSO KHALIFATULLAH

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.
“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.
“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.
“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”
Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”
“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.
“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.
“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.
Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.
Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.
Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.
Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.
30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”
Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.
“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”
“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”
“Berarti saya hutang?”
“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.
Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!
Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah took kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika dating saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”
Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”
Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun. Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.
Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.
(EMHA)
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 00.49 0 komentar
Label: Padhang Mbulan
Jumat, 12 Februari 2010
INDAHNYA BUAH KESABARAN

Di suatu pagi pagi seseorang yang muda usia kelihatan datang tergopoh – gopoh ke sebuah rumah di Dusun Limbangan namanya. Dusun Limbangan kebetulan masuk wilayah Desa Kutawis, sebuah dusun yang terletak di sebelah timur perbatasan antara wilayah Purbalingga dengan Banjarnegara. Dusun itu termasuk dusun yang terlihat sudah maju pertaniannya, di kanan kiri jalan terlihat berbagai tanaman hijau menghias di pelupuk mata. Desiran angin pagi seolah mengiringi kesejukan suasana yang terpancar di dusun itu. “Assalamualaikum ….” terdengar sebuah salam dari pemuda itu. ”Wa’alaikum salam…”, terdengar jawaban ustadz Ahmad dari dalam rumah. Ya .. rupanya pemuda itu datang ke bersilaturahim ke tempat ustadz Ahmad. Setahu saya ustadz Ahmad merupakan salah seorang yang cukup gigih mengembangkan kehidupan beragama di dusun tersebut. Setelah sekian lama menimba ilmu di beberapa pesantren, iapun kembali ke kampungya dengan tujuan menyiarkan agama Islam. Saya ingat betul saat itu, dusun tersebut masih banyak yang enggan sholat. Bahkan ada yang sholat hanya setahun dua kali saja, yakni sholat I’dul Fitri dan I’dul Adha. Namun keadaan sekarang jauh berubah. Setelah kedatangan ustadz Ahmad, setiap sore banyak anak – anak kecil yang belajar mengaji ke masjid tempat ustadz Ahmad mengajar. Kalau dulu orang – orang hanya berbondong – bondong sholat pada saat sholat I’dul Fitri dan I’dul Adha saja, sekarang setiap sholat jum’at, masjid – masjid di dusun itu kelihatan ramai. Tidak hanya itu hampir setiap bulan diadakan pengajian yang melibatkan warga, dan saat – saat tertentu mengadakan Pengajian Akbar dengan mengundang penceramah dari luar daerah. Setelah ngobrol ngalor – ngidul, akhirnya pemuda itu mulai mengutarakan maksud kedatangannya ke ustadz Ahmad. “Begini ustadz, saya sudah beristeri lebih dari lima tahun, pada awalnya rumah tangga saya berjalan dengan tenang dan membahagiakan, karena kebetulan isteri saya ini saya nikahi atas dasar saling mencintai.” ungkap si pemuda kepada ustadz Ahmad. “Namun, akhir – akhir ini kebahagiaan yang dulu saya rasakan mulai hilang dari keluarga kami. Isteri saya mulai menampakkan sifat aslinya yang pemarah, materialistis, dan super cerewet. Semua tindakan saya selalu dikomentari. Semua itu saya coba jalani dengan sabar dan mengalah. Namun beberapa hari ini, yang membuat saya hamper-hampir tidak kuat adalah isteri saya mulai menjelek-jelekan saya di muka umum. Ia mulai menceritakan segala kelemahan saya di depan teman – temannya.” Si pemuda mulai berkeluh kesah kepada ustadz Ahmad. “Kalo begini terus menerus…apa saya kuat ustadz ? apa yang sebaiknya harus saya lakukan ?” tanya si pemuda. Mendengar keluhan si pemuda itu, rupanya ustadz Ahmad tidak langsung menanggapinya. Sesaat kemudian terlihat ustadz Ahmad Di suatu pagi pagi seseorang yang muda usia kelihatan datang tergopoh – gopoh ke sebuah rumah di Dusun Limbangan namanya. Dusun Limbangan kebetulan masuk wilayah Desa Kutawis, sebuah dusun yang terletak di sebelah timur perbatasan antara wilayah Purbalingga dengan Banjarnegara. Dusun itu termasuk dusun yang terlihat sudah maju pertaniannya, di kanan kiri jalan terlihat berbagai tanaman hijau menghias di pelupuk mata. Desiran angin pagi seolah mengiringi kesejukan suasana yang terpancar di dusun itu. “Assalamualaikum ….” terdengar sebuah salam dari pemuda itu. ”Wa’alaikum salam…”, terdengar jawaban ustadz Ahmad dari dalam rumah. Ya .. rupanya pemuda itu datang ke bersilaturahim ke tempat ustadz Ahmad. Setahu saya ustadz Ahmad merupakan salah seorang yang cukup gigih mengembangkan kehidupan beragama di dusun tersebut. Setelah sekian lama menimba ilmu di beberapa pesantren, iapun kembali ke kampungya dengan tujuan menyiarkan agama Islam. Saya ingat betul saat itu, dusun tersebut masih banyak yang enggan sholat. Bahkan ada yang sholat hanya setahun dua kali saja, yakni sholat I’dul Fitri dan I’dul Adha. Namun keadaan sekarang jauh berubah. Setelah kedatangan ustadz Ahmad, setiap sore banyak anak – anak kecil yang belajar mengaji ke masjid tempat ustadz Ahmad mengajar. Kalau dulu orang – orang hanya berbondong – bondong sholat pada saat sholat I’dul Fitri dan I’dul Adha saja, sekarang setiap sholat jum’at, masjid – masjid di dusun itu kelihatan ramai. Tidak hanya itu hampir setiap bulan diadakan pengajian yang melibatkan warga, dan saat – saat tertentu mengadakan Pengajian Akbar dengan mengundang penceramah dari luar daerah. Setelah ngobrol ngalor – ngidul, akhirnya pemuda itu mulai mengutarakan maksud kedatangannya ke ustadz Ahmad. “Begini ustadz, saya sudah beristeri lebih dari lima tahun, pada awalnya rumah tangga saya berjalan dengan tenang dan membahagiakan, karena kebetulan isteri saya ini saya nikahi atas dasar saling mencintai.” ungkap si pemuda kepada ustadz Ahmad. “Namun, akhir – akhir ini kebahagiaan yang dulu saya rasakan mulai hilang dari keluarga kami. Isteri saya mulai menampakkan sifat aslinya yang pemarah, materialistis, dan super cerewet. Semua tindakan saya selalu dikomentari. Semua itu saya coba jalani dengan sabar dan mengalah. Namun beberapa hari ini, yang membuat saya hamper-hampir tidak kuat adalah isteri saya mulai menjelek-jelekan saya di muka umum. Ia mulai menceritakan segala kelemahan saya di depan teman – temannya.” Si pemuda mulai berkeluh kesah kepada ustadz Ahmad. “Kalo begini terus menerus…apa saya kuat ustadz ? apa yang sebaiknya harus saya lakukan ?” tanya si pemuda. Mendengar keluhan si pemuda itu, rupanya ustadz Ahmad tidak langsung menanggapinya. Sesaat kemudian terlihat ustadz Ahmad mempersilahkan si pemuda itu untuk minum dan menikmati hidangan ubi goreng yang sudah tersedia di mejanya. Setelah menghela nafas sesaat, ustadz Ahmad mulai bercerita kepada si pemuda itu.
Tersebutlah ada dua lelaki yang berkawan akrab. Mereka adalah Hasan dan Ismail. Keduanya orang shalih yang taat beribadah. Karena tempat mereka berjauhan, tidak mungkin keduanya selalu bertemu. Namun ada kebiasaan di antara mereka, setiap setahun sekali Hasan selalu datang ke rumah Ismail. Suatu hari Hasan berkunjung ke rumah sahabatnya itu. Tiba di rumah Ismail, ia mendapatkan pintu rumah temannya itu tertutup rapat. Setelah beberapa kali mengetuk pintu terdengar sahutan istri sahabatnya dari dalam rumah, “Siapakah kamu yang mengetuk-ngetuk pintu?” Kemudian Hasan menjawab, “Saya Hasan, sahabat suamimu. Aku datang untuk mengunjunginya hanya karena Allah SWT.” “Dia sedang pergi mencari kayu bakar. Mudah-mudahan saja ia tidak kembali lagi!” jawab istri Ismail sambil memaki dan mencela suaminya sendiri. Mendengar jawaban seperti itu, Hasan keheranan. Belum hilang keheranannya, tiba-tiba muncul Ismail. Ia datang sambil menuntun seekor harimau yang di punggungnya terdapat seikat kayu bakar. Begitu melihat Hasan, Ismail langsung menghambur mendekat sambil mengucapkan salam kehangatan. Setelah menurunkan kayu bakar dari punggung harimau, Hasan berkata kepada harimau itu, “Sekarang pergilah, mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu!” Ismail mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah. Sementara mereka bercakap-cakap, istri Ismail masih terus bergumam memaki-maki suaminya. Ismail diam saja. Hasan keheranan bercampur takjub melihat kesabaran sahabatnya itu meskipun istrinya terus memaki, ia tetap tidak memperlihatkan muka kebencian. Hasan pulang menyimpan rasa kagum terhadap Ismail yang sanggup menekan rasa marahnya menghadapi istrinya yang begitu cerewet dan berlidah panjang. Satu tahun berlalu. Seperti kebiasaannya, Hasan kembali mengunjungi sahabatnya, Ismail. Ketika mengetuk pintu rumah Ismail, dari dalam terdengar langkah-langkah kaki. Beberapa saat kemudian terlihatlah istri sahabatnya yang dengan senyum ramah menyapanya, “Tuan ini siapa?” “Aku sahabat suamimu. Kedatanganku semata untuk mengunjunginya karena Allah,” jawab Hasan. Istri Ismail menyapa ramah, lalu mempersilakan tamunya duduk menunggu suaminya. Tak lama kemudian Ismail datang membawa seikat besar kayu bakar di atas pundaknya. Dua sahabat itu pun segera terlibat perbincangan serius. Hasan menanyakan beberapa hal yang membuatnya keheranan. Tentang keadaan istrinya mempersilahkan si pemuda itu untuk minum dan menikmati hidangan ubi goreng yang sudah tersedia di mejanya. Setelah menghela nafas sesaat, ustadz Ahmad mulai bercerita kepada si pemuda itu.
Tersebutlah ada dua lelaki yang berkawan akrab. Mereka adalah Hasan dan Ismail. Keduanya orang shalih yang taat beribadah. Karena tempat mereka berjauhan, tidak mungkin keduanya selalu bertemu. Namun ada kebiasaan di antara mereka, setiap setahun sekali Hasan selalu datang ke rumah Ismail. Suatu hari Hasan berkunjung ke rumah sahabatnya itu. Tiba di rumah Ismail, ia mendapatkan pintu rumah temannya itu tertutup rapat. Setelah beberapa kali mengetuk pintu terdengar sahutan istri sahabatnya dari dalam rumah, “Siapakah kamu yang mengetuk-ngetuk pintu?” Kemudian Hasan menjawab, “Saya Hasan, sahabat suamimu. Aku datang untuk mengunjunginya hanya karena Allah SWT.” “Dia sedang pergi mencari kayu bakar. Mudah-mudahan saja ia tidak kembali lagi!” jawab istri Ismail sambil memaki dan mencela suaminya sendiri. Mendengar jawaban seperti itu, Hasan keheranan. Belum hilang keheranannya, tiba-tiba muncul Ismail. Ia datang sambil menuntun seekor harimau yang di punggungnya terdapat seikat kayu bakar. Begitu melihat Hasan, Ismail langsung menghambur mendekat sambil mengucapkan salam kehangatan. Setelah menurunkan kayu bakar dari punggung harimau, Hasan berkata kepada harimau itu, “Sekarang pergilah, mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu!” Ismail mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah. Sementara mereka bercakap-cakap, istri Ismail masih terus bergumam memaki-maki suaminya. Ismail diam saja. Hasan keheranan bercampur takjub melihat kesabaran sahabatnya itu meskipun istrinya terus memaki, ia tetap tidak memperlihatkan muka kebencian. Hasan pulang menyimpan rasa kagum terhadap Ismail yang sanggup menekan rasa marahnya menghadapi istrinya yang begitu cerewet dan berlidah panjang. Satu tahun berlalu. Seperti kebiasaannya, Hasan kembali mengunjungi sahabatnya, Ismail. Ketika mengetuk pintu rumah Ismail, dari dalam terdengar langkah-langkah kaki. Beberapa saat kemudian terlihatlah istri sahabatnya yang dengan senyum ramah menyapanya, “Tuan ini siapa?” “Aku sahabat suamimu. Kedatanganku semata untuk mengunjunginya karena Allah,” jawab Hasan. Istri Ismail menyapa ramah, lalu mempersilakan tamunya duduk menunggu suaminya. Tak lama kemudian Ismail datang membawa seikat besar kayu bakar di atas pundaknya. Dua sahabat itu pun segera terlibat perbincangan serius. Hasan menanyakan beberapa hal yang membuatnya keheranan. Tentang keadaan istrinya yang sangat jauh berbeda dibanding setahun yang lalu. Ia juga menanyakan bagaimana Ismail mampu menaklukkan seekor harimau sehingga binatang buas itu mau memanggul kayu bakarnya. Mengapa ia sekarang tidak bersama-sama dengan binatang itu lagi ? Ismail segera menjelaskan, “Ketahuilah sahabatku. Istriku yang dulu meninggal setelah sekian lama aku berusaha bersabar menghadapi perangai buruknya. Atas kesabaran itulah, Allah SWT memberi kemudahan bagiku untuk menundukkan seekor harimau seperti yang engkau lihat. Allah juga memberiku karunia berupa istri shalihah seperti yang engkau lihat sekarang. “Aku gembira mendapatkannya, maka harimau itu pun dijauhkan dariku. Aku memanggul sendiri kayu bakar.”
Setelah mendengar cerita itu dari ustadz Ahmad, pemuda itu bertanya, ” Jadi kalau saya terus bersabar saya bisa menundukkan harimau ?. ”He..he...bukan itu maksud saya...” celoteh ustadz Ahmad sambil terkekeh – kekeh. ”Ketahuilah setiap kesabaran yang kita lakukan pasti akan ada buahnya, setiap kesabaran yang kita jalankan dengan ikhlas, limpahan hikmah akan tercurah kepada kita. Namun hanya orang – orang yang memiliki kebeningan jiwa yang bisa menerima cahaya hikmah itu. Mulailah buka ruang hatimu.” kata sang ustadz. ”Sebelum kamu bertanya, ”kuatkah aku mendapat perlakuan isteri seperti ini ?”, akan lebih baik, tanyakan kepada dirimu, ”seberapa baikkah perlakuanmu terhadap Allah”, bisa jadi perangai isterimu itu, cara Allah untuk menumbuhkembangkan ”jiwa kesabaranmu”. Perangi isterimu yang dari kacamata umum sangat memalukan, bisa jadi Allah sedang mempersiapkan jiwamu, karena akan memberimu sebuah anugerah yang begitu agung, sehingga kebesaran jiwamu harus disiapkan.” begitu untaian indah ustadz Ahmad mulai mengalir. ”Jadi yang harus saya lakukan apa ustadz ?” sergah si pemuda dengan lirih. Ustadz Ahmadpu kembali berkata, ” Lebih dekatkanlah dirimu kepada Allah... jika kemarin sholatmu bolong – bolong, berjanjilah dan lakukanlah mulai sekarang tidak bolong – blong lagi. Cobalah bangun di tengah malam, memohon dengan hati yang khusyuk minta petunjuk supaya diberi jalan yang terbaik.” ”Mulailah menghargai atas apa yang dilakukan isterimu, dengan pujian, karena kebanyakan suami tidak bisa menghargai kerja keras isteri walaupun mereka sudah bekerja 24 jam.” Untaian ustadz Ahmad terus mengalir. Perlahan – lahan si pemuda itu, mulai menunduk dan trenyuh hatinya. Iapun mulai terbuka hatinya tentang apa yang selama ini tidak dilakukan. Selain sholatnya yang bolong – bolong, iapun jarang menghargai kerja keras isterinya, karena merasa sudah jengkel dengan perilakunya. Padahal, bisa saja isterinya berbuat itu karena merasa tidak dihargai oleh istrinya. Setelah lama duduk termenung, si pemuda itupun pamitan untuk pulang dengan segudang cahaya pemahaman yang telah ia dapatkan. Wallahu a’lam.
yang sangat jauh berbeda dibanding setahun yang lalu. Ia juga menanyakan bagaimana Ismail mampu menaklukkan seekor harimau sehingga binatang buas itu mau memanggul kayu bakarnya. Mengapa ia sekarang tidak bersama-sama dengan binatang itu lagi ? Ismail segera menjelaskan, “Ketahuilah sahabatku. Istriku yang dulu meninggal setelah sekian lama aku berusaha bersabar menghadapi perangai buruknya. Atas kesabaran itulah, Allah SWT memberi kemudahan bagiku untuk menundukkan seekor harimau seperti yang engkau lihat. Allah juga memberiku karunia berupa istri shalihah seperti yang engkau lihat sekarang. “Aku gembira mendapatkannya, maka harimau itu pun dijauhkan dariku. Aku memanggul sendiri kayu bakar.”
Setelah mendengar cerita itu dari ustadz Ahmad, pemuda itu bertanya, ” Jadi kalau saya terus bersabar saya bisa menundukkan harimau ?. ”He..he...bukan itu maksud saya...” celoteh ustadz Ahmad sambil terkekeh – kekeh. ”Ketahuilah setiap kesabaran yang kita lakukan pasti akan ada buahnya, setiap kesabaran yang kita jalankan dengan ikhlas, limpahan hikmah akan tercurah kepada kita. Namun hanya orang – orang yang memiliki kebeningan jiwa yang bisa menerima cahaya hikmah itu. Mulailah buka ruang hatimu.” kata sang ustadz. ”Sebelum kamu bertanya, ”kuatkah aku mendapat perlakuan isteri seperti ini ?”, akan lebih baik, tanyakan kepada dirimu, ”seberapa baikkah perlakuanmu terhadap Allah”, bisa jadi perangai isterimu itu, cara Allah untuk menumbuhkembangkan ”jiwa kesabaranmu”. Perangi isterimu yang dari kacamata umum sangat memalukan, bisa jadi Allah sedang mempersiapkan jiwamu, karena akan memberimu sebuah anugerah yang begitu agung, sehingga kebesaran jiwamu harus disiapkan.” begitu untaian indah ustadz Ahmad mulai mengalir. ”Jadi yang harus saya lakukan apa ustadz ?” sergah si pemuda dengan lirih. Ustadz Ahmadpu kembali berkata, ” Lebih dekatkanlah dirimu kepada Allah... jika kemarin sholatmu bolong – bolong, berjanjilah dan lakukanlah mulai sekarang tidak bolong – blong lagi. Cobalah bangun di tengah malam, memohon dengan hati yang khusyuk minta petunjuk supaya diberi jalan yang terbaik.” ”Mulailah menghargai atas apa yang dilakukan isterimu, dengan pujian, karena kebanyakan suami tidak bisa menghargai kerja keras isteri walaupun mereka sudah bekerja 24 jam.” Untaian ustadz Ahmad terus mengalir. Perlahan – lahan si pemuda itu, mulai menunduk dan trenyuh hatinya. Iapun mulai terbuka hatinya tentang apa yang selama ini tidak dilakukan. Selain sholatnya yang bolong – bolong, iapun jarang menghargai kerja keras isterinya, karena merasa sudah jengkel dengan perilakunya. Padahal, bisa saja isterinya berbuat itu karena merasa tidak dihargai oleh istrinya. Setelah lama duduk termenung, si pemuda itupun pamitan untuk pulang dengan segudang cahaya pemahaman yang telah ia dapatkan. Wallahu a’lam.
(KangTris)
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 00.12 0 komentar
Label: Hikmah