
Pagi - pagi, terlihat Badrun nongkrong di tempat Kang Soleh. Wajahnya terlihat sedikit memerah. Sementara diluar angin pagi berhembus semilir, meniup daun di pepohonan dengan lembut. Sinar mataharipun mulai terlihat di ufuk timur, seolah tanpa lelah menunaikan tugasnya.
”Drun, kamu kenapa ? pagi – pagi gini sudah pasang muka serem ... ” ledek Kang Soleh.
”Saya sudah capek berdo’a kang....”, kata Badrun tiba – tiba......
Mendengar ungkapan Badrun, wajah Kang Soleh terlihat memerah, sambil berkata, ”istighfar kamu Drun...... istighfar......”.
Suasana kemudian menjadi sepi, Kang Soleh terlihat seperti mendengar suara halilintar yang menyambar – nyambar. Sementara Badrun terlihat bersungut – sungut.
Setelah agak lama, terlihat Kang Soleh meminum segelas air putih.
”Kamu menjadi begini, asalnya kenapa ?”
”Saya sudah lama berdo’a, tapi kok lama sekali ga dikabulkan sama gusti Alloh.” jawab Badrun.
Sejenak Kang Soleh mengambil nafas panjang, kemudian perlahan – lahan senyum khas Kang Soleh mulai menebar.
”Drun, barangkali kamu lupa... waktu kita sama – sama ngaji ke kyai Ilyas ya...”
”Lupa..... apanya kang ?”
”Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seseorang dari kalian akan terkabul (do’anya) selama ia tidak tergesa-gesa mengucapkan kalimat, ‘Sungguh, aku telah memohon kepada-Mu wahai Rabbi, namun belum juga terkabul’”
”Astaghfirullohal ’adzim.....” terdengar lirih suara Badrun.
Sejenak wajah kang Soleh sedikit menunduk. Kemudian berkata :
” Drun, ingat.... do’a kita mungkin bunyinya sudah bagus, munajat kita sangat indah .... namun barangkali hati kita tidak beradab ketika berdo’a.”
”Do’a kita tidak lebih memaksa Alloh untuk menuruti selera kita, memanfaatkan suasana terjepit kita, bahkan tak lebih dari protes kita kepada – Nya”
”Hilangkan semua itu ..... berdoalah sebagai wujud kehambaan kita yang sangat butuh, sangat lemah, sangat hina dan tak berdaya.
”Ingatlah.... do’a lebih utama dibanding terkabulnya do’a, karena dalam do’a ada munajat komunikatif dan interaktif dengan Allah SWT.”
Wallahu ’alam.
Kangtris
Selengkapnya...
Kamis, 19 April 2012
Capek BERDOA
Diposting oleh Metha des Innocents di 21.40 0 komentar
Label: Hikmah
Hanya Bergantung Kepada ALLAH

Mendengar penjelasan Kang Soleh, tentang kebergantungan hanya kepada Alloh, Firman masih duduk termenung. Raut wajahnya kelihatan sedikit agak tenang, namun sorot matanya terlihat membumbung tinggi ke awan. Nafasnya terdengar memanjang. Perlahan – lahan iapun mulai berbicara.
“ Berarti berkurangnya harapan, karena masih menggantungkan kepada amal, ya kang ?” tanya Firman.
“ Mestinya, kamu sudah bisa menjawab pertanyaanmu….” Jawab Kang Soleh.
“ Supaya hati tidak bergantung kepada amal, gimana Kang ?” tanya Firman.
Kang Soleh, ikut termenung mendengar pertanyaan Firman.
“ Kamu ngaji yang bener…. cari guru pembimbing yang bener…….” jawab Kang Soleh sekenanya.
“ Itu sudah pasti lah kang……, kasih sedikit pencerahan ya….?” Pinta Firman.
“ Pertama – tama seorang dalam beramal, biasanya melihat dengan beramal itulah yang membawanya kehadirat Alloh. Segala aktivitasnya dijadikan kendaraan untuk menuju Alloh. Bila kamu dalam berbisnis, itupun bisa dijadikan kendaraan menuju Alloh.
Ia melihat melalui penyebab amalnya, aktivitasnya, ia berharap menuju Alloh. Amaliahnya ini yang dijadikan alat menuju Alloh.
Pada tahap selanjutnya, pandangannya akan berubah. Ia melihat amaliah, aktivitas yang ia lakukan bukan lagi sebagai alat, namun mutlak karunia Alloh semata, dan kehampirannya kepada Alloh juga mutlak karena karunia Alloh semata.”
“ Masih agak bingung kang ??????” tanya Firman.
“ Dengarkan dengan hatimu…..”
“ Rubahlah dari bergantung kepada amal, kepada pemberi amal itu sendiri….. karena kamu bisa beramal, bukan karena kemampuanmu, kepintaranmu… namun karunia Alloh semata.”
“ Terus ????? “ sela Firman.
“ Kalau kamu mau dikasih proyek sama seseorang saja, kamu semangat, masa….. mau dikasih pemberi maha proyek, kamu ga semangatttt ? “
“ Tandanya saya lagi dikasih karunia gimana kang ? “ sela Firman lagi.
“ Kamu diberi taat dalam ibadahmu…….”
Wallahu a’lam
Kangtris
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 21.32 0 komentar
Label: Hikmah
TASBIH Sang NENEK

Sekitar jam 18.30 malam tanggal 31 Desember 2011, selepas maghrib saya berangkat dari Jakarta, hendak menuju Semarang, untuk rencana bersilaturahim dengan keluarga di sana. Kebetulan untuk kali ini saya berangkat sendirian, karena keluarga kebetulan sudah mendahului pergi ke sana, sedangkan saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, sehingga baru malam ini saya bisa berangkat.
Seperti rutinitas tahun – tahun sebelumnya, sepanjang perjalanan relatif padat karena kebetulan malam tahun baru masehi 2012, sehingga dalam perjalanan dari Sumedang hingga Brebes jalan – jalan diramaikan dengan berbagai konvoi kendaraan. Hingga kurang lebih jam 01.30 dinihari, rasa kantuk mulai menyerang saya, hingga saya masuk ke sebuah SPBU di tegal timur, saya tidak ingat persis, tapi yang jelas sudah mendekati daerah Pemalang.
Ketika mulai memasuki SPBU, saya lihat keadaan sepi, yang parkir justru kebanyakan truk gandeng, saya hanya melihat sebuah kendaraan carry pick up yang sedang parkir. Sambil melihat kanan kiri, sayapun memarkir kendaraan di sebelah kanan carry pick up tersebut. Setelah ambil nafas panjang sebentar, sayapun bergegas menuju tempat wudhu, untuk berwudhu, kemudian menuju kendaraan lagi, dengan niat untuk tidur sesaat karena kantuk begitu terasa.
Namun, sebelum saya masuk ke kendaraan, entah mengapa, saya mendekati seorang nenek yang duduk persis di sebelah kanan tempat parkir kendaraan saya. Terlihat seorang nenek dengan muka telah keriput, berkerudung hitam, berbaju abu- abu, sedang duduk tenang. Sementara di depannya terlihat sebuah bakul, dengan diatasnya terjejer makanan seperti lontong, gorengan, dan sejenisnya. Pada saat itu, situasi benar – benar sepi, mungkin kalau bukan karena rasa kantukpun saya cepat pergi dari tempat ini.
Kembali ke nenek itu, setelah saya mendekat mencoba duduk di sebelah nenek itu, sambil tangan saya memijit – mijit kaki saya, untuk melepas rasa capek.
”sampai jam berapa nek, kalau jualan ?” tanya saya kepada si nenek.
”ya sampai sehabisnya, kadang jam 3, kadang juga lebih.” jawab nenek.
”Tidurnya kapan ?”, tanya saya lagi.
”Sehabis shubuh saya baru tidur.” jawab nenek.
Di tengah rasa capek, dan ngantuk sayapun mencoba menatap sang nenek, ”kasihan sekali”. batin saya. Sayapun memandang ke bawah,sambil termenung, ”di saat hampir sebagian besar orang sedang tidur, si nenek justru terbangun. Di saat seusia ia, kebanyakan orang menikmati masa tuanya, justru ia masih bekerja mencari nafkah.”
Lintasan fikiran sayapun terus berkelana, hingga dalam hati berkata, ”alhamdulillah, keluarga saya, bapak saya, ibu saya, ataupun nenek dan kakek saya, tidak ada yang mengalami nasib seperti si nenek ini. Nenek sayapun sudah lanjut usia, namun di usia yang sudah senja, aktifitas hariannya hanya duduk, nimang cucu, serta nunggu saat sholat tiba, karena kebetulan rumah di komplek masjid.”
Saat lintasan diatas terus berkelana, sebagai ungkapan rasa syukur, justru saya jadi teringat cerita seorang wali Allah, Syeikh Sariy as Saqathy yang pernah berkata, ”Tiga puluh tahun aku beristighfar memohon ampun Allah atas ucapanku sekali, Alhamdulillah”.
”Lho bagaimana itu ?”, tanya seseorang yang mendengarnya.
Kemudian syeikh menjelaskan, ”Ada kebakaran di kota Baghdad, lalu ada orang yang datang menemuiku dan mengabarkan bahwa tokoku selamat tidak ikut terbakar. Aku waktu itu spontan mengucap, ”Alhamdulillah!”, maka ucapan itulah yang kusesali selama tiga puluh tahun ini. Aku menyesali sikapku yang hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain.”
Tigapuluh tahun menyesali perbuatannya, dan memohon ampun kepada Allah, hanya karena secara spontan berkata ”Alhamdulillah”, sebagai refleksi atas keegoisan diri, di tengah – tengah penderitaan lingkungan. Sayapun jadi malu, jangan – jangan ”rasa syukur” saya hanyalah ”luapan egoisme diri belaka”.
Dan ternyata, rasa malu sayapun tak berhenti disitu. Setelah agak lama terdiam di tengah lintasan fikiran saya, sang nenek berkata, ”Saya jualan ini, karena dengan jualan makanan seperti ini, saya bisa berharap dapat pahala, karena saya telah menjual makanan, yang dengan makanan ini, orang mempunyai tenaga, dengan tenaga itu seseorang bisa beribadah. Selain itu, sambil menunggu orang yang beli, sayapun bisa sambil bertasbih seperti yang diajarkan guru ngaji di mushola kampung saya.”
Astaghfirullah...., diam – diam bergolak batin saya, ternyata nenek yang saya hadapi adalah laksana malaikat yang sedang mengingatkan kelalaian saya. Tak terasa air mata inipun meleleh, rasa kantuk yang tadinya melanda hilang seketika. Saat tertatih tatih rasa malu saya, sayapun mohon ijin kepada si nenek, untuk pergi ke mushola untuk sholat. Setelah sholat sayapun bersimpuh ke Illahi Rabbi, sambil terisak.... atas kelalaian yang terlintas di benak saya.
Wallahu A'lam...
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 21.15 0 komentar
Label: Hikmah
Rabu, 18 April 2012
MALAM PERTAMA

Satu hal sebagai bahan renungan kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan...
Ini bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa
Justeru malam pertama 'perkawinan' kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Seluruh badan kita terbuka....
Tak ada sehelai benangpun menutupinya..
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang ? lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok kita....
Itulah jasad kita waktu itu
Setelah dimandikan...,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal, yaitu "Kafan"
Wewangian ditaburkan ke baju kita...
Bagian kepala..,badan..., dan kaki diikatkan
Tataplah....tataplah...itulah wajah kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...
Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita
Diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan..yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan
dan akhirnya.....
Tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama 'kekasih'..
Ditemani rayap - rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah telah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan....
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...
Inilah masa menunggu sebelum tibanya hari akhir dari segala-galanya..
Akankah sejak malam ini kita menunggu untuk ke surga atau ke neraka..
Mungkin tak pantas kita rasanya menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi ....sanggupkah kita menjadi ahli neraka...
Wahai Sahabat...mohon maaf...jika malam itu aku tak menemanimu
Bukan aku tak setia...
Bukan aku berkhianat....
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga
Aku berdo'a...semoga kita bisa khusnul khotimah sehingga jadi ahli
syurga.
Amien....Amien...Amien Ya Robb...
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 17.20 0 komentar
Label: Hikmah
Rabu, 04 Januari 2012
CATATAN PERJALANAN

"Setiap langkah dan tarikan nafas kita, akan menjadi kitab yang berupa catatan perjalanan kita untuk kembali kepada-Nya. Segala isi dalam kitab kita, akan kita pertanggung jawabkan di hadapan-Nya, apa saja yg tulis... hitam atau putih, baik apa buruk, indah atau buram ...semua ada pertangungan jawab-Nya...
Tetapi bukan itu intinya yang Allah tuntut dalam kitab kita, bukan isi tulisanya tapi dengan tinta apa yg kitab itu kita tulis...,
Sebaik apa tulisan itu, kalau kita goreskan dengan "tinta dari ke-aku-an" diri (kita merasa bisa, berilmu, kuat, dan sebagainya) pasti tdk Dia terima, justru akan Allah lemparkan kitab itu ke muka kita.
Dan seburuk apapun yg kita tulis dalam kitab itu, asalkan kita goreskan tinta "dengan kesadaran bahwa Allah ada dan meliputi gerak langkah kita" niscaya akan indah dan mempesona,...
Qodrat dan irodat, qodha'dan qodar... tiadalah mampu kita menolaknya.. itu sudah Nas-Nya.
Hanya dengan selalu bersama-Nya di dalam keduanya itulah.. tinta yg Mulya... janganlah pernah terlepas "kesadaran kita" akan hadir-Nya,...
Karena kebaikan belum bisa selamatkan kita (Justru cenderung akan menyesakan kita, bila terlena, tiada syukur di dalamnya)...
begitu juga keburukan juga tidak mampu selamatkan kita, hanya Al Haq (kebenaran, kesadaran kita akan sumber dari yg baik dan buruk)... dari Allah dan hanya Allah yang menyelamatkan kita... bukan kebaikan dan keburukan,..
Jadi intinya yang kita cari dan kita buru, bukan apa yang akan kita tulis dalam kitab kita, tapi dengan apa tinta apa, untuk menggoreskan dan mengisi kitab kita. Tinta sesungguhnya (Allah) yang membuat goresan kekal dan dikenang selamanya, atau tinta yang sifatnya sementara, fana' yaitu tinta (kesadaran bahwa diri yang bisa melakukanya), yang akan hilang hanya karena angin dan hujan (riya', ujub dan lain sebagainya)......
Semoga Allah senantiasa bersama kita, dan meridhoi semua apa yag telah dan akan kita lakukan... Amin... Amin Ya Robbal Alamin...
Wallahu a'lam...
Kedai Sufi
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 21.56 0 komentar
Label: Al Hikam
Rabu, 21 Desember 2011
KISAH SEJATI SEORANG IBU

Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya. "Bisa saya melihat bayi saya?" pinta ibu yang baru melahirkan itu penuh rona kebahagiaan di wajahnya. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, si ibu terlihat menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu. Bayi yang digendongnya ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.
Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."
Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.
Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.
"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"
Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.
Para netter yang luar biasa,
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengancinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.
Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.
Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA..., BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI.
JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA..., INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.
andriewongso
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 20.19 0 komentar
Minggu, 11 Desember 2011
ZIARAH KE MAKAN PELACUR

Malam itu, Jack dengan jamaah pelacur kelas tinggi sedang berbincang di hotel bintang lima. Di bulan suci, apa yang mereka inginkan? Ya,mereka juga pasti ingin hari raya, pulang kampung dengan membawa oleh-oleh. Di antara mereka banyak yang libur melacur, hanya minta kiriman lewat ATM para pelanggannya. Ada pula yang masih ngebut mencari “tumpangan” layaknya angkot. Ada pula yang sudah berjanji, selepas lebaran, dunia kelam akan ditutup selamanya dalam hidupnya. Macam-macamlah.
Jack bercerita banyak tentang sejarah pelacuran di dunia, sampai profil-profil pelacur hingga seorang pelacur yang menjadi permaisuri raja, dan sempat menyelamatkan negerinya. Tak kurang pula bagaimana Jack mengisahkan tobatnya para pelacur dan sejumlah pelacur yang memondokkan anaknya di pesantren, dari hasil pelacuran.
“Malam ini kita akan lanjutkan ziarah bersama ke sebuah makam seorang perempuan mulia di mata Allah tapi hina di mata manusia…”
“Apakah dia seorang penjahat? Koruptor? Kanibal? Atau…? Seperti kita-kita ini, Mas? tanya salah satu hostes di hotel itu.
“Ya, Anda tebak sendiri. Kita kesana, kita tahlil, dan berdoa bersama?”
Para pelacur itu sepertinya sudah mengerti siapa yang akan di ziarahi itu. Wajah-wajah mereka mengekspresikan pancaran yang beragam. Ada yang kelihatan pucat pasi, ada pula yang gembira, ada pula yang menunduk, ada pula yang langsung menitikkan air mata.
“Bagaimana kisahnya Mas Jack, kok sampai dia begitu mulia di hadapan Allah? Apakah kita-kita ini yang sangat kotor juga bisa?”
Mata Jack menerawang jauh. Lalu ia kisahkan tentang kehidupan pelacur itu. Ia adalah seorang hostes yang sangat cantik dan sangat laris. Semua orang di jakarta yang hobi berselingkuh dengan dunia perempuan tahu namanya. Begitu juga orang-orang di kampungnya tahu profesinya. Makanya, ketika tiba-tiba meninggal dunia, hampir tak ada yang mau mnguburnya. Sanak saudaranya juga tidak jelas. Akhirnya pelacur ini dikubur saja asal-asalan, di kuburan dekat sungai, yang tempatnya jauh dari kuburan umum. Masyarakat merasa jijik, dan sekaligus menjadikan momentum, agar dikenang, bahwa seorang pelacur kalau mati tidak akan dikubur di makam umum. Mungkin masyarakat mau menghukum pelacur ini.
Sepuluh tahun kemudian, tiba-tiba ada proyek pelebaran sungai. Tentu kuburan pelacur ini akan digaruk begitu saja. Benar, ketika kuburan pelacur itu di buldoser, tiba-tiba buldosernya macet, dan berulang kali demikian. Akhirnya seorang kyai di kampung itu datang bersama masyarakat untuk mengeduk kuburan itu. Apa yang terjadi? Mereka semua terkejut setangah mati ketika melihat mayat pelacur sepuluh tahun yang lalu masih utuh, kafannya masih bersih, kulitnya masih mulus. Mereka terhenyak, dan hampir semua yang melihat disana menangis, memohon ampun kepada Allah atas dosa dan penghinaan yang mereka lakukan selama itu. Akhirnya dikuburkan di makam umum, dihormati layaknya orang yang lain.
Jack terdiam sejenak hampir tersedak suaranya. Sementara para pelacur lainnya itu, sudah saling berpelukan menahan tangis atas kisah tragis itu.
“Apa yang dilakukannya selama jadi pelacur Mas?”
“Saya tidak tahu. Mungkin hatinya tidak pernah melacur, jiwanya untuk Allah. Dan setiap dia melacur dia hanya ingat Allah, bahkan menjerit-jerit. Saya dengar dari dunia waktu yang saya tembus, melihat dia menjelang meninggalnya menangis sampai kering air matanya, dan menjerit sampai pingsan atas pertobatannya, sampai wafatnya… Allah mengampuni segala dosanya yang berlalu. Saya merasa mendengarkan munajatnya begini: Tuhan, Engkau tahu aku hamba yang Engkau Ciptakan, dan Engkau pun tahu aku seperti ini tidak lepas dari Takdir-Mu. Kini aku hanya ingin kembali kepada-Mu, setelah seluruh isi makhluk- Mu tidak ada yang menjadi harapanku.Kalau seluruh makhluk-Mu saja mencaciku, menghinaku, menghempaskanku, lalu Engkau pun juga hendak membuangku, lalu siapa lagi yang bakal menerima hamba yang hina ini Tuhaaan… Padahal Engkaulah satu-satunya harapanku… Karena itu terimalah aku di Pangkuan-Mu ya Tuhaaann…”
Hotel berbintang itu seakan-akan mau roboh mendengar kisah Jack, karena setelah kisah itu diuraikan, berurai pula air mata dan jeritan jama’ah pelacur itu…
M. Luqman Hakim (Jack&Sufi)
Selengkapnya...
Diposting oleh Metha des Innocents di 20.03 0 komentar