
Hukum kita bedakan menjadi dua yaitu :
1. Hukum ijtihan manusia
2. Hukum dan otoritas yang menjadi haknya Allah SWT
Seperti babi, khomer itu tidak ada urusannya dengan proses budaya, jadi bukan karena Muhammad SAW menjumpai babi terus ada cacing pita segala macam dan kalau menghilangkan virusnya harus dicuci sama pasir sampai 7 kali baru diharamkan.
Tidak, Muhammad tidak pernah mengharamkan babi tapi yang melarang adalah Tuhan, dan Muhammad hanya menyampaikan. Masalahnya sekarang manusia mempunyai hak tafsir, artinya kalau Tuhan menyuruh kita Sholat lima waktu dalam sehari itu bisa kita tafsirkan. Tapi harap diingat semua tafsir itu tidak berlaku hanya bagi support logis diri masing-masing dan tidak berlaku sebagai dukungan hukum, ndak bisa. “Wis emboh pokoke sampean dikongkon sembayang alasane opo, pokoke sembayang ae”. Itu kalau hukum Tuhan, itu namanya gajinya Tuhan. Kalau dalam perhitungan ekonomi semesta, Tuhan kasih saham hampir seratus persen Dia hanya minta gaji 3,5 persen yang namanya ibadah mahdoh, dari sahadat sampai naik haji. Dan yang mahdoh-mahdoh lain adalah hukum-hukum lain seperti babi, khomer dan lain sebagainya adalah hukum mahdoh yang tidak berdasarkan pertimbangan manusia. Disitu pertimbangannya hanya “take it or live it”. Terserah mematuhi atau tidak mematuhi terserah dengan resiko masing-masing. Dan kalau diluar 3,5 persen itu ibadah muamallah itu boleh anda runding, boleh anda itjihadi. Bikin PKB boleh, bikin parpol boleh yang ngusulin Presiden itu boleh, yang independent atu ndak terserah “monggo” silakan diperdebatkan. Tuhan tidak ikut campur kecuali dia hanya memberi batas sar’I saja.
Jadi bicara tentang babi dan kalau anda ngomong cacing pita itu akan terbantah terus, karena cacing pita itu kita bisa atasi dengan mudah. Kalau hanya dengan makan babi cacing pita itu bisa saja hanya alas an klasik dan kuno. Penemuan terbaru mengenai babi itu justru satu eksperimen di wilayah biologi bahwa semua organ didalm babi itu sama dengan manusia, itu bisa menjadi salah satu hipotesis untuk mencari argumentasi mengapa babi diharamkan meskipun tidak boleh dipastikan, itu tetap terserah Tuhan. Biar itu baik untuk kita atau tidak kan hak Tuhan… kan gitu ?, Tetapi bahwa babi itu organ dalamnya itu persis manusia dan kalau anda cangkok hati babi ndak masalah kalau perlu organ anda diganti punya babi semua ndak masalah. Biar jelas masalahnya gitu lho…
Tapi tetap meskipun ada penemuan seperti itu tidak bisa kita jadikan kalimat “oh.. Tuhan melarang babi itu karena organ didalam babi sama dengan manusia, ya ndak..? ju ..iya terserah gusti Allah SWT” alasannya gimana orang itu soal mahdoh kok. Sama dengan sholat subuh itu dua rokaat, apa alasannya ?. cariono yang sulit, maka tafsir apapun dalah ibadah mahdoh itu tidak bisa untuk legitimasi.. jadi sekali lagi hukum Tuhan itu beda dengan hukum yang kita bikin.
Ada penelitian di Swedia mengapa Adam dikatakan manusia pertama itu benar, karena dalam semua manusia asalkan laki-laki bila gennya diambil, dari banyak gen semua akan mengalami mutasi dan mutasi itu bisa disebabkan kalau dia punya bapak, bukan kalau dia punya ibu. Jadi tidak mungkin laki-laki lahir tanpa bapak, dan itu bila Tuhan membikin Hawa dulu tidak akan terbukti secara biologis, maka harus ada Adam dulu baru kemudian ada anak turunnya. Itu bisa dibuktikan secara biologi sekarang. Tapi bila Tuhan diomongin bukti ya Tuhan bilang “ya…semau-maunya aku”.
Rabu, 25 November 2009
HUKUM ALLAH TAK BUTUH ARGUMEN
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)
0 Comments:
Post a Comment