
Alkisah ada seorang pemuda dari kelurga berada yang disekolahkan oleh keluarganya ke luar negeri. Ketika sudah sudah selesai kuliah, maka kembalilah dia ke tanah air.
Setelah anaknya kembali ke keluarganya, dia sering terlihat termenung dan mengurung diri. Ternyata ayahnya takut kalau-kalau anaknya telah terkontaminasi oleh budaya barat. Maka sang ayah berniat akan mengirim anaknya untuk belajar agama terlebih dahulu sebelum meneruskan bisnisnya.
Ketika ayahnya mengutarakan niatnya kepada sang anak, maka sang akan menyetujui dengan mengajukan beberapa syarat.
“Ayah, saya mau belajar agama dan mengaji kepada orang yang dapat memberikan jawaban atas 3 petanyaan yang selama ini mengganggu pikirian saya”, jawab si anak kepada ayahnya.
Maka esok harinya, sang ayah mengundang beberapa orang yang dianggap akan mampu menjawab pertanyaan yang akan diajukan oleh anaknya. Ternyata dari sekian banyak orang, dari ustad kampong sampai kalangan intelektual bahkan samapai yang bergelar professor pun tidak ada yang dapat memberikan jawaba yang memuaskan jawaban atas pertanyaan sang anaknya.
Suatu ketika sang anak jalan-jalan menyusuri jalan kota, karena sedikit lelah dia duduk di sebuah halte sambil memperhatikan kendaraan orang yang berlalu lalang didepannya. Tak lama ada seorang kakek tua, dengan tampang lusuh datang.
“ Anak muda, bolehkan saya duduk di sebelah kamu?”, bicara sang kakek kepada si anak dengan penuh rasa rendah hati.
“Oh silahkan kek, kakek tidak perlu ijin untuk dusuk di sini”, jawa si anak.
“ Terima kasih anak muda, saya takut karena banyak orang jaman sekarang yang merasa jijik kalo harus berdampingan dengan orang seperti saya ini”, jawab si kakek sambil terbatuk-batuk karena memang usianya yang sudah tua. Si anak merasa kagum dengan alas an yang disampaikan oleh sang kakek.
Maka terjadilah obrolan di antara kedua orang itu, sampai akhirnya si anak ini teringat akan pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya..
“Kek, saya mau minta tolong. Saya punya pertanyaan-pertanyaan yang jadi pikiran buat saya dan belum ada jawaban yang memuaskan Kek. Kalo kakek bisa menjawab pertanyaan saya, maka saya akan memberikan apa saja yang kakek minta”, si anak mengutarakan maksudnya kepada sang kakek
“Hmmm….anak muda, di luar sana banyak orang pandai dan orang pintar. Memangnya pertanyaan macam apa anak muda yang menjadi pikiran kamu, mungkin dengan ilmu yang sedikit dan pengalaman hidup yang saya jalani bisa sedikit memberikan jawaban” jawab si kakek sambil menghela nafasnya yang sudah agak payah.
“Begini kek, saya punya 3 pertanyaan, pertama : Kalu memang Tuhan ada, tunjukan wujud tuhan seperti apa?, kata si anak.. Si kakek menghela napas, dan mempersilahkan si anak muda untuk melanjutkan pertanyaannya.
“Kedua, apa yang dinamakana takdir? Dan yang terakhir, Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?” si anak melanjutkan pertanyaanya.
Si kakek terdiam, mencerna apa yang jadi pertanyaan si anakn muda. “ Plak…”,tiba-tiba si kakek menampar pipi si anak muda.
“Aduh..kenapa kakek menampar saya? Apakah ada yang salah dengan pertanyaan saya? Apakah saya suda menynggung persaaan kakek?”, si anak muda protes sambil mengaduh.
“Itulah jawaban atas 3 pertanyaan kamu”, jawab sang kakek.
“Apakah kamu merasakan sakit?”, tanya si kakek dan si anak muda mengangguk. “Jadi kamu percaya bahwa sakit itu ada? Sekarang mana sakitnya, mana wujud sakit yang kamu rasakan?”
“Saya tidak bisa”, jawab si anak sambil menahan sakit.
“Itulah jawaban atasa pertanyaan pertamamu, kita bisa merasakan keberadaan Tuhan tanpa kita mampu melihatNya”, si kakek menjelaskan.
“Lalu, apakah semalam kamu bermimpi bahwa kamu akan ditampar? Apakah kamu pernah berpikir klo hari ini akan ditampar oleh saya?”, tanya si kakek kemudian.
“Tidaka sama sekali”, jawab si anak sambil menggeleng.
“Itulah yang namanya takdir, kita tidak akan pernah tahu apa yang Tuhan tentukan untuk kita”, tandas si kakek.
Si kakek bertanya,“Terbuat dari apa pipi kamu?”
“Kulit dan daging kek”, jawab si anak polos.
‘Trus, tangan saya terbuata dari apa?, tanya si kakek kemudian. “Sama kek, kulit dan daging”, jawab si anak lagi.
“Bagaimana rasa tamparan saya?”, kata si kakek. “Sakit kek” kata si anak muda.
“Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.”, jawab si kakek sambil berlalu meninggalkan si anak muda.
Hal di atas tidak mengada-ada, mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti itu juga sering menghampiri pikiran kita. Jadi, ketika kita yakin dan percaya bahwa Tuhan itu ada, maka kita tidak perlu menuntut untuk dapat melihat wujudNya. Kita cukup menyakini, bahwa Tuhan senantiasa melihat kita.
Senin, 08 Februari 2010
Satu Tamparan Untuk Tiga Pertanyaan
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)
0 Comments:
Post a Comment